Kicau
Dulu manusia mengungkapkan pikirannya melalui cerita. Buah pikiran menyebar ketika manusia saling membagi dari mulut ke mulut, turun temurun. Maka kita saat ini memiliki kitab suci, cerita rakyat, hikayat, larangan-pamali, karena cara ini.Ketika semakin maju dan ditemukan cara membuat kertas, buah pikiran manusia dituangkan melalui teknologi ini. Keluarlah surat kabar, koran, novel, makalah, tesis, dan turunannya. Cara ini beratus tahun telah menjadi andalan manusia menyebarkan pikiran, ideologi, agama, dan anutan politik.
Manusia adalah mahluk berpikir. Maka teknologi yang dikeluarkannya terus berkembang. Ketika internet terus merasuk hingga ke meja kerja di rumah kita, ia juga mentransformasi umat manusia dalam menyebarkan pikiran mereka.
Blog dan mailing list membuktikan bahwa penyebaran pikiran semakin cepat hinggap dari satu titik ke titik lain. Lalu lintas pertukaran ideologi menjadi semakin padat. Akibatnya, manusia bisa semakin terbuka atau justru semakin bertahan diri.
Telepon seluler juga mengambil peranan penting dalam proses penyebaran pikiran. Telepon yang bisa bergerak membuat manusia bisa dihubungi dimana saja. Ketika telepon seluler kemudian bisa dipakai berinternet, penyebaran pikiran pun juga bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun.
Twitter contohnya. Dengan telepon seluler buatan Tiongkok seharga 400 ribu rupiah yang sudah bisa tersambung internet, kita bisa menyebarkan buah pikiran kita ketika kita sedang buang air atau mau tidur. Sedang terkena macet di jalan atau sedang makan bakso. Bebas dan murah.
Twitter memaksa kita hanya mampu mengetik 140 karakter untuk mengungkapkan pikiran. Maka buah pikiran yang keluar pun instan dan sepotong-sepotong. Twitter tidak bisa diharapkan menghasilkan buah pikiran yang dalam, ya karena sepotong-potongnya itu tadi. Kelebihannya adalah ia cepat.
Kelebihan lainnya adalah kita bebas mengikuti buah pikiran orang yang kita kagumi dengan langsung. Buah pikiran para mentri, tokoh politik, penyanyi, bintang film, atau siapa pun yang kita kagumi, bila ia memilki akun twitter dan aktif mengungkapkannya, tinggal kita follow.
Kadang terasa ajaib juga bila tokoh-tokoh di pentas politik, seperti Budiman Sudjatmiko, Pramono Anung, Zulkifliemansyah, Indra J Piliang, Ulil Abshar Abda'lla, Goenawan Mohammad, Wimar Witoelar, bahkan sampai Barack Obama, yang terasa jauh, namun buah pikiran mereka bisa langsung hadir tepat di genggaman tangan kita.
Dari kicauan (akar kata twitter seperti dimaksudkan oleh pencipta Twitter, Jack Dorsey
Evan Williams, dan Biz Stone adalah tweet, kicau. Manusia bisa berdialog dengan 140 karakter, pendek tapi banyak, persis seperti burung berkicau) mereka, kita bisa tahu isu-isu penting, bahkan sebelum media massa nasional mengungkapkan.
Hal terpenting yang bisa saya pelajari ialah pikiran manusia adalah hal yang dashyat. Bisa berbahaya namun bisa baik bagi kemanusiaan. Oleh karena itu, marilah kendalikan jari tangan kita dengan bijak. Banyak membaca adalah hal yang penting, agar kita bisa memperoleh pikiran yang dalam, bukan sepotong-sepotong seperti kicau burung di taman.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home