Wednesday, November 25, 2009

Galuh

Anak perempuan kami sudah lahir pada 24 Oktober 2009 lalu. Terlahir dengan cara normal dengan berat 3.5 kg dan panjang 51 cm, bisa dibayangkan perjuangan istriku melahirkannya. Puji syukur kepada Sang Empunya Hidup yang mengizinkan kami untuk memperoleh kesempatan merawatnya.

Kami memberinya nama Galuh Dahayu Waranggani Pratipodyo. Dulu, saat masih di kandungan, kami sudah mencari-cari nama apa yang akan diberikan kepadanya. Dari awal kami memang sepakat untuk memberikan nama yang "Indonesia" saja. Tapi, karena bumi Nusantara ini memang bhinneka, jadi makna Indonesia itu luas sekali. Bukan bermaksud Jawanisasi kalau kami menggunakan nama Jawa Kuno dan Sansekerta. Kalau saja kami orang Batak, mungkin ia kuberi nama Nauli atau Sondang, seperti seandainya kami dari Bali ia akan kuberi nama Ida Ayu.

Galuh, nama panggilannya, terlahir di zaman internet. Namanya memang kami cari setelah tanya dari Mbah Gugel dan Pak Bing. Ketik saja "nama sansekerta" atau "nama jawa kawi", muncullah pilihannya. Tinggal ambil yang artinya diingankan dan tentu saja sesuai di hati. Jadi kalau ingin tahu arti nama secara harafiah dari Galuh Dahayu Waranggani Pratipodyo, bisa kok ditanya pada "mbah" dan "bapak" di atas. Tapi kira-kira arti nama keseluruhannya adalah permata indah yang berwajah elok anak dari Pak dan Bu Pratipodyo. Kira-kira lho.

Setelah itu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana ia akan memanggil kami, orangtuanya? Tadinya sempat ingin mengikuti Om Anang dan Tante Krisdayanti yang dipanggil Pipi dan Mimi oleh anak-anak mereka. Tapi gara-gara berita perceraian mereka yang menghebohkan itu, sementara Emak-Babeh terlalu main-main, Papa-Mama bukan kami banget, Ayah-Bunda terlalu artifisial, kami "back to basic" memilih "bapak" dan "ibu" sebagai nama panggilan kami.

Bagaimanapun, pada akhirnya, hal-hal di atas hanyalah detail kecil. Yang terutama, kami hanya berharap putri kami ini tumbuh sebagai gadis yang takut akan Tuhan. Kalau boleh berharap, kami berharap ia menjadi orang yang selalu rendah hati, sederhana, tak henti mencari ilmu, dan mencintai tanah air tumpah darahnya, Indonesia.






BACA SELENGKAPNYA..

Wednesday, August 26, 2009

Kompos

Tinggal di kampung bisa berarti tidak mungkin mendapat fasilitas seperti hidup di perumahan kelas atas dengan sarana yang komplit. Mungkin suasana guyub lebih mudah bisa didapat, tapi ada beberapa hal yang nampaknya harus diperjuangkan. Salah satunya sampah.

Aku dan istri memang lumayan pusing harus memikirkan masalah sampah.Di lingkungan rumah kami, orang masih mengandalkan membakar sampah untuk memusnahkan sampah rumah tangga. Bisa dipahami karena lingkungan ini berawal dari tanah kebun dan sawah sehingga pada awalnya jarak antar rumah masih berjauhan dan sampah rumah tangga yang dihasilkan belum semasif sekarang.

Ketika geliat kota mulai merambah kampung ini (termasuk kami yang tidak memiliki pilihan lain), jarak antar rumah menjadi semakin dekat dan orang semakin banyak menghasilkan sampah plastik. Membakar sampah adalah pilihan yang tidak bijaksana.

Setelah sibuk mencari sumber bacaan dan literatur, pilihan yang kemudian kami ambil adalah membedakan sampah. Sampah basah seperti sisa dapur, sisa makanan, dan makanan busuk ditempatkan berbeda dengan sampah plastik dan kardus. Tujuannya cuma satu, agar sampah plastik bisa dimanfaatkan pemulung dengan mudah.

Plastik-plastik yang bisa digunakan ulang disimpan saja untuk membungkus sesuatu. Tapi botol minuman ringan, kardus susu, dan semacamnya tentu tidak bisa kami gunakan lagi. Karena kami yakin pasti dibutuhkan oleh pemulung, kami pastikan sampah kering tersebut bebas dari kotoran basah yang membuatnya bau. Dengan begitu para pemulung dapat memanfaatkan sampah kering kami dengan lebih mudah. Aku pun bisa membuangnya ke tempat pembuangan sampah sementara dengan lebih tenang.

Lalu bagaimana dengan sampah basah? Kalau didiamkan akan membuat bau dan kotor. Menjadikannya kompos adalah jalan keluar. Pak Sobirin memberikan banyak pilihan dalam membuat kompos. Tapi karena ini baru percobaan pertama, aku memilih sistem aerob yang lebih mudah.


Siapkan tong plastik, satu batang pipa pvc 1/2 inchi, dan perkakas pertukangan standar untuk memotong dan mengebor.

Tong plastik dibolongi bagian bawah ukuran 15 cm x 20 cm. Juga di bagian bawah dilubangi dengan bor secukupnya. Gunanya akan saya beritahu nanti.
Pipa pvc dipotong-potong dibuat seperti di atas.



Oh ya, pipa pvcnya dibolongi dengan bor dulu ya. Agar udara bisa masuk ke dalam sampah.



Kira-kira hasilnya seperti ini. Nah sampah-sampah basah hasil rumah tangga dimasukkan ke sini. Agar cepat menjadi kompos, campur air dengan EM4 (bisa dibeli di toko tanaman). Air buangannya disalurkan melalui lubang-lubang kecil di bagian bawah seperti saya sebutkan di atas.

Lalu bagaimana memanennya? Caranya dengan membuka tutup lubang berukuran 15x20 cm seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Jadi, karena yang siap dipanen adalah sampah yang ada di bagian bawah, memang kita perlu bukaan di bagian bawah tong plastik ini.

Pada dasarnya ini adalah sistem coba-coba. Aku sendiri masih harus menyempurnakan cara membuat kompos ini. Ada pikiran untuk membuat sistem anaerob agar hasilnya lebih maksimal. Tapi sistem anaerob ini harus ditanam di dalam tanah, jadi mungkin perlu sedikit usaha lebih keras.

Harapannya sih sederhana saja. Paling tidak sampah basah yang dihasilkan rumah kami ada gunanya. Sedangkan sampah kering yang dibuang bisa dimanfaatkan para pemulung dengan lebih mudah, tidak harus mereka cuci dulu karena memang sudah kami bersihkan dari mulanya. Juga, kami tidak perlu beli kompos lagi untuk tanaman-tanaman kami.






BACA SELENGKAPNYA..

Wednesday, July 15, 2009

King

Liburan sekolah baru saja usai. Persoalan klasik tentang anak-anak Indonesia yang kesulitan menemukan bangku sekolah kembali muncul. Tapi ada yang bisa sedikit dicatat dari liburan kemarin ini, yaitu munculnya banyak film anak-anak Indonesia. Di tengah serbuan film horor dan komedi nakal, munculnya film anak-anak seperti Garuda di Dadaku dan King pantas diapresiasi.

Di antara film Indonesia yang sedang beredar di bioskop, yaitu Maling Kuburans, Ketika Cinta Bertasbih, Garuda di Dadaku, dan King, aku memutuskan menonton yang terakhir. Alasan pertama adalah orisinalitas ide film. Aku melihat bahwa pengangkatan tema bulutangkis sebagai main core isi film lumayan brilyan. Sebagai salah satu parfum bangsa Indonesia di arena olahraga internasional, sudah layak dan sepantasnya bulu tangkis dijadikan kebanggan bersama. Film King melakukan itu.

Ari Sihasale, sebagai produser dan sutradara, terlihat jelas dalam membawa arah film. Dari gambar-gambar indah di dataran tinggi Tengger, anak-anak yang memiliki mimpi menjadi pemain bulutangkis, dan munculnya tokoh-tokoh pahlawan bulutangkis sebagai cameo, semuanya membawa ke muara yang sama. Ya, mudah buat penonton untuk melihat bahwa film ini menginginkan penonton segera tumbuh rasa cinta tanah air, menjalin persahabatan yang tulus antar anak bangsa, dan mau mengikuti pahlawan bangsa sebagai patron.

Jalan ceritanya sebenarnya sederhana saja. Tentang anak desa di perdesaan kabupaten Banyuwangi bernama Guntur, yang dilatih keras oleh bapaknya untuk menjadi pemain bulutangkis. Sang bapak, yang mengidolakan Lim Swie King, sangat meninginkan anaknya mampu menjadi seperti idolanya. Dibantu oleh kawan-kawan kecilnya, Guntur mencoba melakukan semua usaha keras itu untuk mewujudkan cita-cita sang bapak.

Semuanya menjadi jelas ketika Guntur mampu terpilih untuk mengikuti seleksi beasiswa PB Djarum di Kudus, sebuah nama Persatuan Bulutangkis yang selalu melahirkan pahlawan-pahlawan bulutangkis Indonesia, termasuk Lim Swie King. Namun ketiadaan biaya menghambat Guntur untuk meninggalkan desanya. Namun akibat bantuan kawan-kawan kecil dan warga sedesanya, mimpi Guntur bisa diwujudkan. Di pusat pelatihan PB Djarum inilah Guntur bertemu idola bapaknya.

Dari penulisan skenario, aku masih merasa banyak cerita yang melompat-lompat. Antara frame satu dengan yang lain juga terlalu dipaksakan. Klimaksnya pun kurang menggigit. Mungkin karena ini pengalaman pertama Ari Sihasale menjadi sutradara, hal tersebut boleh dimaklumi.

Meski begitu, aku salut akan keberpihakannya kepada sisi kemanusiaan yang diusung. Dari film Denias (sebagai produser), juga King ini (sebagai produser dan sutradara), Ari Sihasale selalu berusaha membuat film yang menampilkan sisi lain bangsa ini. Menonton film-filmnya selalu membuka mata tentang keindonesiaan yang lugu, naif, apa adanya, tapi juga indah. Plus sedikit pesan untuk menjadi seorang nasionalis.

Di film King, aku melihat perkampungan di dataran tinggi yang rapi dan teratur meskipun sederhana. Sisi kiri kanan jalan dibuat batu berundak-undak. Mengingatkan buku "Architecture without Architect" yang pernah aku baca di perpustakaan kampus dulu.

Yang paling aku suka tentu saja frame bermuatan lanskap savana yang ternyata ada di Jawa Timur sana. Kijang (?) yang berlarian di atas savana hijau membuatku semakin yakin bahwa Indonesia memang tidak pernah kekurangan tempat yang indah.

Sebetulnya Tuhan terlalu baik pada bangsa ini.

BACA SELENGKAPNYA..

Tuesday, June 16, 2009

Perempuan

Banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiranku, perempuanku
Tentang kota ini, juga orang-orang di dalamnya
Tapi dalam beberapa waktu belakangan ini
Semuanya adalah tentangmu



Terus bertanya-tanya
Apakah kau mirip ibumu
Atau justru aku?
Atau percampuran ibumu dan aku?

Juga sedikit berkhayal
Bahwa aku akan mengajarimu
Sedikit tentang bumi pertiwi
Tentang orang-orang sederhana yang akan kau temui

Nanti aku yang akan membetulkan kuncir merahmu
Sambil memberikan susu hangat
Di malam dingin-dingin itu

Atau kalau sedikit sudah besar
Akan aku ajarimu renang gaya katak
Karena kamu suka melihat katak, bukan?

Terkadang timbul cemas
Apakah aku mampu menjadi yang seharusnya aku kepadamu
Seperti matahari kepada bumi
Yang membuatnya hangat
Seperti hujan kepada padi
Yang membuatnya lepas dahaga
Seperti takdir kepada kota ini
Yang membuatnya tetap berdegup

Lalu, adakah juga kau sudah bisa berpikir
Mengapa kau ada dari tiada?
Apakah hanya karena dari perjumpaan lingga dan yoni?
Atau alam semesta yang memilihmu?

Banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiranku, perempuanku
Tentang negri ini, juga orang-orang di dalamnya
Tentang kebakaran hutan di Sumatra
Tentang perempuan-perempuan, sepertimu, yang dicampakkan di tanah sebrang
Tentang keindahan laut di Wakatobi
Tentang jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura
Tentang kereta api yang membelah kota Solo

Tapi dalam beberapa waktu belakangan ini
Semuanya selalu tentangmu

BACA SELENGKAPNYA..

Monday, April 20, 2009

Tol


Apa yang membedakan Jakarta dengan daerah lain di Indonesia? Padatnya permukiman penduduk? Polusi udaranya yang menyesakkan dada? Itu semua bisa jadi benar adanya. Tapi ada fenomena yang sedang mengubah wajah kota ini menjadi sebuah kota yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya.

Coba perhatikan bagaimana Jakarta menyelesaikan salah satu masalah yang terberat dihadapi kota ini: kemacetan lalu lintas. Penyelesaiannya adalah pembuatan jalan bebas hambatan atau kita kenal dengan jalan tol. Mungkin masalah semantik dengan istilah “jalan bebas hambatan” bisa diperdebatkan karena jalan tersebut sebetulnya tidak benar-benar bebas hambatan. Tapi ada hal yang penting di sini untuk melihat sebuah proses Jakarta tidak akan lagi bisa menjadi kota untuk dihuni, namun berubah menjadi sekadar “jalan bebas hambatan”, seperti yang dialami Los Angeles.

Termotivasi pikiran tersebut, saya menulis di koran berbahasa Inggris, The Jakarta Globe, tentang kondisi Jakarta yang lama-kelamaan menjadi kota penuh dengan jalan tol. Tulisan versi web koran tersebut bisa dilihat di sini.


Ini tulisan lengkapnya.



Prabham Wulung
Lessons From Los Angeles Warn of the Perils of Freeways

What kind of Jakarta do you see in the next, say, 10 years? If you asked me, I would say: a freeway city. Yes, there is a phenomenon that will change the face of Jakarta so it will never be the same again.


Look at how Jakarta is trying to solve one of its biggest problems: traffic congestion. The city’s government thinks that the way to solve this problem is to expand the toll roads, which Indonesians call “jalan bebas hambatan,” or freeways. The term “free” may be debatable, as in Jakarta the users must pay and the roads are not free of congestion. But the important thing here is to show how in the future, Jakarta will slowly become a city not for living, but will instead become a “freeway city,” as Los Angeles is.

The term “freeway city” was introduced by Peter Hall in the book “Cities in Civilization.” Hall coined the term “freeway city” for Los Angeles, noting how it morphed from abandoned land in the early 20th century to a megacity filled with cars and freeways in the 1980s.

In 1900, Los Angeles was home to 100,000 citizens, the 279th biggest city in the world. When the city started to grow, the electric light railway was built to replace the horse cart.

Hall wrote that the railway reached every corner of Los Angeles. The system was known as “interurbans.” The system had its golden era in the mid-1920s. The administrator of the system, Pacific Electric, managed the 1,873-kilometer-long network.

Automotive industries were in the spotlight in the 1920s. At the same time, Los Angeles was growing rapidly. Aside from the discovery of an oil field near the La Brea Tar Pits, American entrepreneurs were looking for vast stretches of land for multinational factories. They saw that kind of land in Los Angeles. Big movie companies established headquarters in the city. In short, it was a period of growth for Los Angeles.

The integration of the automotive industry and a growing city created a city that differed from other American cities. The American dream of owning a house in a suburban area and owning a car that could deliver the owner to wherever he wanted to go made private vehicles more common for families in Los Angeles.

Hall stated that in 1930, the ratio of cars to people in Los Angeles was 1 to 1.5. This was compared to the national average of 1 to 5.3. As most residents had cars, developers were determined to build houses further from the central part of town. Before 1914, developers would only develop houses four blocks from a main road, but in the 1920s they had houses 48 kilometers from the city, beyond the reach of the railway.

As cars became the primary method of transportation, the electric light railway lost favor with the residents of Los Angeles. Then the railway company went bankrupt. As some lines were closed down, residents started to depend more on private vehicles.

Cars slowly took over the roads of Los Angeles. This meant congestion. Then came the invention we know now as the freeway. By the 1980s, Los Angeles had freeway networks covering 2,505 kilometers. Basically, Los Angeles was no longer a city, but a series of interlocking freeways.
Every morning and evening, queues of cars lined up along the roads. The freeways no longer worked.

The citizens realized then that the city badly needed a mass transportation system. They resented the previous generation for abandoning the railway system. In 1990, the city administrator started to develop a 35-kilometer railway line connecting Los Angeles with Long Beach.

Jakarta is now on the same track as Los Angeles when it started to think that freeways were a solution. We are starting to become trapped like the people of Los Angeles.

The time we spend on the roads is getting longer — from 36 percent of our time to 67 percent between 1985 and 2000. The city lost Rp 8.25 trillion ($775.5 million) in 2002 because of time spent in traffic jams. Private cars take up 85 percent of the road space, but only carry 9.7 percent of the commuters. The road from Cawang to Gatot Subroto must be widened by up to 36 lanes by 2020 to deal with the potential increase in private vehicles.

Lessons from Los Angeles should teach us that freeways don’t solve the problem of traffic jams. Freeways create traffic jams. In other words, a mass transportation system is the answer.

The citizens of Jakarta don’t want to see the city from behind the steering wheel forever. There is a need to touch people, mingle and enjoy open spaces. We don’t want to see the city filled with drivers and their cars. We want to live in this city, not spend time on its freeways.

Prabham Wulung is an architect and city observer. He graduated from the University of Indonesia and blogs at www.vintage-travel.blogspot.com.

BACA SELENGKAPNYA..

Friday, March 06, 2009

20



Apa yang bisa dilakukan di sebuah rumah berukuran 20 m persegi? Tidak banyak. Paling menonton televisi atau membaca. Kalau sedang mati gaya, apalagi hidup hanya berdua istri, yang ada lu lagi lu lagi. Satu-satunya yang bisa membunuh kebosanan adalah pergi keluar rumah dan bercocok tanam di halaman.


Di halaman rumah kebetulan sudah ada pohon rambutan yang kalau berbuah manis sekali dan pohon melinjo. Kebetulan istriku mendapat tanaman buah 5 batang. Halaman rumah yang terbatas itu akhirnya penuh dengan tambahan pohon rambutan (lagi), klengkeng, jambu (2 batang), dan duh, satu lagi kok sampai lupa ya?

Belum selesai. Ibu mertuaku tiba-tiba menyuruh kami memindahkan pohon jeruk dari rumahnya ke halaman rumah kami. Lalu, bapakku tiba-tiba membawa pohon mangganya untuk ditanam. Walah. Halaman seuprit tapi isinya tanaman buah melulu. Sepertinya mereka akan mengalami kompetisi yang berat untuk mendapat sinar matahari yang cukup. Hidup mereka akan keras. Tapi tidak apa. Yang bertahan pasti akan menghasilkan buah-buah yang manis.

Aku juga sedang menanam tanaman penutup tanah yang kalau di kantorku disebut telo-telo. Sejenis umbi-umbian. Daunnya kalau sudah rimbun bagus dan juga benar-benar menghasilkan ubi lho. Kalau Anda melewati patung Pangeran Diponegoro di depan taman Suropati, nah Anda bisa melihat tanaman tersebut memenuhi taman itu. Anda tahu nama latinnya? Tapi kok ketika ditanam di rumah banyak diserang ulat ya? Aku sendiri masih berharap bisa menanam bunga mandevilla, tanaman bunga yang bertumbuh merambat untuk menutupi pagar rumah.

Ternyata menyenangkan juga berakhir pekan dengan berkebun. Tidak perlu menghabiskan banyak uang, bisa berolahraga karena banyak mencangkul, dan yang pasti rumah jadi segar.

BACA SELENGKAPNYA..

Thursday, December 18, 2008

Ubud

foto yang aku ambil di depan rumah kosku di Ubud

Pernah tingal di Ubud selama beberapa waktu, lalu kembali ke Jakarta, adalah seperti melompati dua ruang waktu yang berbeda. Yang satu membuat dada berdegup cepat, satunya lagi menenangkan pikiran.

Iseng-iseng membuka file foto-foto lama, dan menemukan beberapa foto yang aku buat selama tinggal di Ubud. Beberapa foto pemandangan alam, beberapa foto kawan-kawan lama. Semuanya membawaku kembali ke kota kecil itu.

Tapi cukuplah untuk kata-kata melankolis. Segala wangi tanah dan ingatan tentang Ubud cukup di kepalaku saja. Mari kita berwisata di kota kecil itu menemani alam pikiranku yang berkelana ke sana.

Bila Anda dari Denpasar, terus ke utara, setelah Sayan Anda akan menemui pertigaan Ubud. Segera belok kanan untuk mencapai pusat kota Ubud. Sampai ke puri Ubud, segera masuki pasar di depannya. Banyak hal remeh temeh khas Bali di situ. Tidak seramai Pasar Sukowati memang, sehingga terasa lebih intim.

Puri Ubud mengadakan pertunjukan tarian setiap minggu. Jumat malam kalau tidak salah. Terus terang saya lupa. Setiap hari puri juga mengadakan latihan tari. Jangan lupa bermain-main dengan monyet di Monkey Forest tidak jauh dari puri, hanya kira-kira 10 menit bersepeda.

Kalau lapar, misalnya Anda bisa menyantap babi, coba babi guling Ibu Oka di depan puri. Meskipun sedikit jorok tempatnya, entah mengapa tempat ini sangat ramai, dari turis lokal hingga interlokal, eh internasional. Kalau mencari masakan halal, segera tuju restoran padang Putri Minang kira-kira satu kilometer sebelah timur Puri. Restoran Putri Minang ini cukup terkenal, sampai-sampai majalah bagi kaum backpacker di seluruh dunia, Lonely Planet merekomendasikannya. Tidak heran banyak bule yang menyambangi.

Bosan dengan babi guling atau warun padang? Coba masakan ayam kadewatan Ibu Mangku. Jadi kalau tadi di awal Anda dari pertigaan belok kanan untuk menuju pusat kota Ubud, untuk menuju restoran ini ambil jalan yang lurus menuju Kedewatan. Tidak jauh, sebelah kanan ada rumah yang dijadikan restoran. Mampirlah. Anda akan menyukai rumahnya yang sangat Bali sekaligus ayam khasnya. Seporsi ayam kedewatan pada tahun 2007 berharga 7000 rupiah. Kenyang, enak, dan lumayan membuat berkeringat karena sedikit pedas.

Kalau Anda berada hanya sehari di Ubud, ini yang wajib Anda lakukan: menyewa sepeda. Ya, menyewa sepeda lalu masuklah ke dalam permukiman melalui jalan-jalan kecilnya. Dari Puri ambil ke barat menuju arah Sungai Ayung. Bersepeda akan lebih asik di area ini. Banyak jalan-jalan kecil yang unik.

Banyak hotel mewah di Ubud. Tapi kalau Anda bingung mencari penginapan murah di sekitar pusat kota Ubud, pastinya ada beberapa hotel melati. Tapi tempat kostku dulu juga mau menyewakan kamar-kamarnya per hari. Letaknya lebih dekat ke Payangan, dekat salah satu hotel termahal di Bali yang sering diinapi oleh Permaisuri Yordania atau desainer Donna Karan, Begawan Giri. Jangan takut dengan penampilan sang empunya kost, Pak Gempol yang berambut gimbal dan badan penuh tato. Kalau mulai berbicara, ia seperti malaikat.

Sebetulnya berat ketika kemudian aku harus meninggalkan kota kecil yang cantik ini. Tapi seseorang menungguku di Jakarta. Apapun, kota ini telah membekas di sebagian sudut hatiku.

BACA SELENGKAPNYA..

Monday, October 27, 2008

Rumah

Rumah rancangan Geoffrey Bawa. Foto oleh Adrian Snell


Rumah, betapa pun kecil dan sederhananya, selalu menjadi istana bagi yang mendiami. Idealisme itu yang kami, aku dan istri, usung ketika memutuskan menikah dan berpikir rumah seperti apa yang akan kami tempati. Kami tidak ingin memiliki rumah dengan kamar-kamar yang besar dan megah namun kering di dalamnya. Kalau diizinkan oleh Sang Empunya Hidup, kami ingin memiliki rumah sederhana yang angin bebas mengalir masuk dan keluar sehingga yang mendiami merasa sejuk.

Kira-kira 6 bulan sebelum menikah sebenarnya kami sudah memulai untuk berburu rumah. Beberapa perumahan sempat kami datangi. Ternyata kami harus berpikir ulang. Membeli rumah di perumahan memang akan memudahkan mendapat kredit, tapi rumah yang dijual tidak ada yang sesuai dengan gaya kami. Terlalu membosankan dan bentuknya itu-itu saja. Garing (dan juga mahal hehe).

Kami pun beralih pikiran untuk membeli tanah saja. Dengan membeli tanah, kami bisa membangun rumah dari nol sesuai dengan keinginan kami. Tidak perlu merubuhkan rumah seperti kalau kami membeli rumah yang sudah jadi. Tapi ternyata membeli kapling tanah di perumahan tetap mahal. Tidak sesuai dengan keadaan keuangan kami.

Kesibukan mempersiapkan pernikahan sempat membuat kami melupakan memiliki tanah. Tapi 2 bulan sebelum menikah sebidang tanah di bilangan Setu, Jakarta Timur sempat membuatku jatuh cinta. Namun ternyata kepemilikannya tidak jelas. Dari situlah justru sebidang tanah yang lain menghampiri. Karena tahu sedang ingin memiliki tanah, seorang teman lama bapakku menawarkan sebidang tanah di Kampung Sawah. 300 meter persegi. Sebenarnya bagi kami tanah sebesar itu terlalu luas bagi keluarga baru seperti kami. Namun harganya tidak terlalu mahal. Memang lumayan jauh. Kalau Anda melalui Jalan Tol Lingkar Luar, Anda bisa keluar di pintu tol Jatiwarna dan kemudian lurus ke arah Kampung Sawah. Tentu saja kami tak pernah berharap bisa memiliki rumah di tengah kota dengan kondisi keuangan kami. Pilihannya tentu saja lokasi bagus harga mahal atau lokasi "Ujung Berung" harga terjangkau.

Yang aku suka, tanah tersebut berada di kampung, bukan komplek perumahan. Masih rimbun dan hijau. Kiri kanan masih kebun. Sekitarnya banyak orang penduduk asli. Banyak anjing dan ayam berkeliaran juga. Ndeso pkoknya, sesuai dengan jiwa kami, penghuninya, yang ndeso juga. Mungkin kami menyukai tanah ini karena kami berdua juga dibesarkan dalam lingkungan perkampungan. Pokoknya kami tetap ingin jadi orang kampung yang semoga tidak kampungan seperti anggota DPR.

Pikir punya pikir, kami memutuskan INGIN membeli tanah tersebut. Tapi seterjangkaunya harga, kalau dikalikan 300 ya tetap saja jadi mahal. Uang kami jauh dari cukup. Apalagi kami harus membiayai pernikahan kami sendiri. Pernikahan tinggal satu setengah bulan, namun keputusan harus dibuat. Bank tidak dapat diandalkan karena tanah kami masih bersifat akte jual beli. Bank baru bisa membiayai pembelian tanah kalau statusnya sertifikat hak milik. Menjual diri? Tidak laku juga ternyata.

Kabar baik datang ketika kakak istriku (yang waktu itu belum menjadi istri) menawarkan untuk mengagunkan surat pengangkatan pegawai negri miliknya untuk meminjam di sebuah bank (Aku baru tahu ada jenis agunan semacam ini: surat pengangkatan pegawai negri. Sayang surat pengangkatan pegawai swasta tidak berlaku. Tidak heran banyak orang berbondong-bondong ingin menjadi pegawai negri.) Tapi ternyata itu pun tidak cukup. Ya sudah. Pasrah. Kami berpikir kalau toh tanah itu jodoh kami pasti akan kembali kepada kami. CLBK istilah ABG sekarang, alias Cinta Lama Bersemi Kembali.

Hal tersebut (CLBK itu lho) ternyata terjadi. Sang pemilik tanah, entah kasihan, entah butuh uang, entah tidak bisa menemukan pembeli lain yang sepasrah kami, akhirnya merelakan tanah itu dibayar dengan uang yang ada ditambah pinjaman bank tersebut. Sisanya bisa dibayar setelah kami menikah. Setelah melewati berbagai tahap proses jual beli hingga kelurahan, secara surat menyurat tanah itu menjadi milik kami. Tentu saja secara de facto tanah itu masih hutang, baik kepada pemilik tanah maupun kepada mbak kami yang baik hati mau merelakan surat pengangkatan pegawai negrinya.

Walah!! Aku yang selama ini kerjaannya mbikin rumah orang lain, kemudian memiliki tanah kosong milik sendiri, tentu saja seperti menemukan mainan baru. Kalau ada waktu, sebidang tanah yang masih banyak pohon rambutannya itu aku utak-atik. Pokonya tidak ada klien bodoh yang membatasi. Yang ada cuma imajinasiku dan... ehm... biaya. Ya biaya pasti menjadi halangan karena uang kami habis untuk membayar cicilan tanah dan kehidupan sehari-hari. Palingan kalau ada pekerjaan sampingan memotret bisa untuk ditabung. Namun merancang sih jalan terus.

Geoffrey Bawa, Romo Mangun, dan Eko Prawoto menjadi patronku dalam merancang rumah ini. Seperti aku tulis di atas, kami ingin memiliki rumah yang sederhana, membumi, tapi nyaman untuk ditinggali. Ketiga arsitek di atas bagiku cocok dalam mempengaruhiku dalam membangun rumah ini nantinya. Aku tidak ingin rumah berarsitektur avant garde seperti Zaha Hadid, tidak juga canggih ala Norman Foster. Ini hasil drafting aku akan rumah kami nantinya. Masih iseng-iseng dan masih bisa berubah. Masih mentah deh pokoknya.

Rumah yang tidak akan selesai

Nah karena kami ingin segera pindah dari Pondok Mertua Indah, kami memutuskan untuk membangun dengan bertahap. Aku sudah merancang rumah ini menjadi rumah tumbuh. Artinya, meskipun dibangun dengan sedikit-sedikit, nantinya rumah ini tidak perlu banyak merombak ketika tahap pembangunannya dilanjutkan. Keputusan dibuat untuk membangun satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Yang penting bisa tidur dan bisa buang hajat. Sedikit ruang sengaja dilebihkan untuk dapur darurat dan tempat mencuci piring. Gubuk derita, mungkin akan terlihat seperti itu. Tapi tiada mengapa.


Ngebor pompa tanpa Inul

Akhir pekan lalu, langkah pertama dibuat. Kami memasang pompa air. Ternyata memasang pompa air menghabiskan uang 5 juta rupiah, dan tabungan kami pun langsung habis. Ada sedikit sisa, tapi minggu depan kami berencana menebang beberapa pohon yang sudah tua (kami akan menebang sedikit mungkin pohon. Selain go green man!!, konsep dari Romo Mangun, Geoffrey Bawa, dan Eko Prawoto ingin agar kita membangun tanpa merusak alam). Rencananya menabung lagi untuk membuat septic tank. Nanti kalau ada duit lagi membuat pondasi. Demikian selanjutnya.

Mungkin rumah ini tak kan selesai. Terus berproses, terus tumbuh. Mengikuti jiwa-jiwa penghuninya, yang semoga terus semakin tumbuh menjadi jiwa yang lebih bijaksana.

BACA SELENGKAPNYA..

Friday, September 19, 2008

Sri

"Sri" yang selalu pulang kalau habis beli terasi


Lagu daerah semakin ngepop. Maksudnya, bukan jamannya lagi lagu-lagu yang dinyanyikan dengan bahasa daerah dimainkan dengan gending, kecapi, kulintang, dan semacamnya. Organ tunggal menggantikan semuanya. Tema-tema yang diusung juga semakin penuh dengan nuansa "kekinian". Up to date.


Coba bandingan dua lagu berbahasa Jawa di bawah ini. (Maaf memilih lagu berbahasa Jawa. Bukan Jawanisasi, tapi itu satu-satunya bahasa daerah yang saya lumayan mengerti).

Yen Ing Tawang Ana Lintang
(ciptaan Andjar Any)

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu
aku ngenteni tekamu
marang mega ing angkasa, ingsun takokke pawartamu
Janji-janji aku eling, cah ayu
sumedhot rasane ati
lintang-lintang ngiwi-iwi, nimas
tresnaku sundhul wiyatiDhek semana janjiku disekseni mega kartika
kairing rasa tresna asih
Yen ing tawang ana lintang, cah ayu
rungokna tangising ati
binarung swarane ratri, nimas
ngenteni mbulan ndadari

Dhek semana janjiku disekseni mega kartika
kairing rasa tresna asih

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu
rungokna tangising ati
binarung swaraning ratri
ngenteni mbulan ndadari

Terjemahan bebas menurut bahasa Indonesia sebagai berikut.

Di langit ada bintang, Manisku
aku menunggu kedatanganmu
pada mega di langit,
kutanyakan kabar beritamu
Janji-janji aku ingat, Manisku
merasuk rasa di hati
bintang-bintang memanggilmu, Adik cantik
menunggu bulan purnama

Kala itu, janjimu disaksikan
langit bintang, diiringi
rasa cinta yang begitu besar

Di langit ada bintang, Manisku
dengarkan tangisan hati
bersamaan dengan suara malam,
cintaku jauh setinggi langit

Lagu tersebut diciptakan oleh maestro Keroncong, Andjar Any, pada pertengahan tahun 60-an. Bandingkan dengan lagu di bawah ini.

Sri (nDang Baliyo)
(Ciptaan Sonny Josh)

Sri, kapan kowe bali, kowe lungo ora pamit aku
Jarene ning pasar, pamit tuku trasi, nganti saiki kowe durung bali
Sri opo kowe lali, janjine sehidup semati
Aku ora nyono, kowe arep lungo, loro atiku, atiku loro


nDang baliyo Sri, nDang baliyo, aku loro mikir kowe ..
nDang baliyo Sri, nDang baliyo, tego temen kowe minggat ninggalake aku
Yen pancene Sri, kowe eling aku
Ndang baliyo, aku kangen setengah mati

Kemudian penyanyi berkata-kata diiringi lagu: Sri, kowe neng endi to Sri? ndang baliyo Sri, aku kangeeen banget. (Kangen diucapkan dengan panjang)

Terjemahan bebas menurut bahasa Indonesia sebagai berikut.

Sri (Segera Pulang)

Sri, kapan kamu kembali? Kamu pergi tanpa pamit aku
Katanya ke pasar, pamit beli terasi, sampai sekarang belum kembali
Sri, apakah kau lupa janji sehidup semati?
Aku tidak menyangka kamu akan pergi, sakit hatiku, hatiku sakit

Segera pulang, Sri! Segera pulang! Aku sakit memikirkan kamu
Segera pulang, Sri! Segera pulang! Tega sakali sih kamu meninggalkan aku
Namun seandainya Sri, kamu ingat aku
Segera pulang, aku rindu setengah mati

Lalu diakhiri berkata-kata diiringi musik: Sri, kamu dimana sih, Sri? Segera pulang Sri, aku rinduuuuuuu sekali.

Lagu berjudul Sri ini benar-benar meledak di tahun 2003-2005. Di pelosok-pelosok perkampungan di Jawa, di truk-truk yang sedang beristirahat di jalur Pantura, di rumah-rumah kontrakan pedagang Bakso asal Wonogiri di Jakarta, hingga ke perkampungan imigran Jawa di Paramaribo, Suriname atau perkampungan kumuh TKI di Selangor.

Dari kedua lagu tersebut, kita bisa melihat bagaimana nuansa yang tercipta begitu berbeda. Padahal keduanya menceritakan hal yang sama, kerinduan akan kekasih tercinta. Pada lagu pertama, banyak simbol-simbol dan perwakilan untuk menceritakan suasana hati. Bintang di angkasa, bulan purnama, dan suasana malam melukiskan suasana sang pelantun lagu betapa sang gadis cantik membawa kesan yang mendalam.

Lagu yang kedua, bukan bintang, mega, bulan, atau semilir angin yang menjadi penanda, tapi terasi! Kekasihnya pamit beli terasi, tapi sampai saat ini belum pulang juga. Ada apa gerangan? Diculik? Sengaja kabur? Kalau betul sengaja kabur, kenapa? Kekerasan dalam rumah tangga? Kepincut laki-laki lain? Tak kuat dengan harga gas yang melambung?

Itulah yang saya maksud tadi dengan nuansa kekinian. Bukan jamannya lagi melihat bulan dan kemudian wajah sang kekasih tergambar di sana. Saat ini romansa dan percintaan, bahkan di daerah pun, tidak peduli dengan perlambang. Semuanya to the point dan tanpa basa-basi. Seperti kasus terasi itu tadi. Penggunaan kata "nDang" yang sebenarnya kasar pun dipilih untuk menegaskan tiadanya basa-basi. "Kamu pulang, dong Sri, aku sudah tidak tahan nih", begitu yang ingin diungkapkan Kang Sonny Josh.

Lagu Sri, dan lagu-lagu dari daerah lain niscaya semakin bertema yang menceritakan suasana saat ini. Mungkin selingkuh yang ketahuan lewat sms, atau suami yang mabuk melulu. Nampaknya pencipta lagu semikin sulit untuk merasakan ombak yang bergulung, angin yang semilir, padi yang merunduk berwarna kekuningan, atau gunung yang gagah perkasa. Bagaimana bisa merasakan semua itu kalau pencipta lagunya juga pusing dengan minyak tanah yang sulit dicari di pasar, atau isrinya yang bernama Sri kabur dengan laki-laki lain?

BACA SELENGKAPNYA..

Friday, September 12, 2008

Kasela

Prabham Kasela..


Beberapa orang bangga akan tanah kelahirannya. Beberapa yang lain ingin menutup rapat-rapat asal-usulnya. Dalam perang antar ras atau suku, sebisa mungkin orang menghindar untuk memperlihatkan sukunya. Namun dalam pemilu, untuk menarik masa dari suatu ras, orang akan sebisa mungkin menunjukkan betapa dekatnya ia dengan ras tersebut.

Ian Kasela adalah seseorang yang (mungkin) bangga atas latar belakangnya sebagai anak daerah dari Kalimantan Selatan sampai ia rela menambahkan nama panggungnya dengan singkatan Kalimantan Selatan: Kasela.


Apa yang membuat orang begitu bangga akan tanah kelahirannya? Apakah hanya sekedar rasa keterikatan dengan masa lalu? Atau ada sesuatu yang harus ditonjolkan? Juga sebaliknya, apa yang membuat orang akan menyembunyikan rapat-rapat masa lalunya? Keburukan persepsi atas daerahnya kah?

Kebetulan istriku terlahir di Indramayu. Bagi banyak orang, persepsi Indramayu buruk dengan gambaran perempuan yang kawin cerai, banyak anak haram, dan semacamnya. Tentu saja stigma ini kadang menghinggap di istriku, walau dalam tataran bercanda. Lucu juga mendengar ceritanya tentang kesan-kesan temannya tentang situasinya yang terlahir di Indramayu.

Istriku juga sering bepergian ke pelosok Nusantara. Dari situ ia banyak melihat dan kemudian bercerita tentang stigma yang melekat pada orang di suatu daerah terhadap di daerah lainnya. Ia bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang Melayu Kalimantan terhadap suku Madura. Bagaimana orang Papua berpikir tentang orang Jawa. Generalisir menjadi stigma. Apa yang dilakukan satu orang menjadi melekat pada seluruh suku.

Stigma menghambat manusia untuk dekat satu sama lain. Perasaan takut dan terancam yang ditimbulkan stigma membuat manusia jengah untuk keluar dari kotak yang dibuatnya. Padahal terbukti, orang Tionghoa ada yang jadi pegawai negri, orang Madura juga suka beramal, orang Jawa bisa bertanggung jawab, orang Papua banyak yang cerdas, dan orang Kalimantan Selatan ada yang jadi penyanyi. Seperti Mas Ian Kasela.

BACA SELENGKAPNYA..

Wednesday, July 23, 2008

Jurnal

Meskipun menulis bagiku adalah salah satu cara pelepasan kepenatan selain memotret, memulainya adalah perjuangan tersendiri. Selain urusan pekerjaan yang terus memburu, urusan menikah adalah salah satu yang menghalangiku membarui blog ini.



Kalau sudah terlalu lama tidak menulis seperti saat ini, cara yang termudah adalah membuat tulisan dengan cara jurnal. Paling tidak, ada sistem yang bisa dipakai. Daripada menuangkan seluruh pikiran yang berkecamuk tapi hasilnya tak karuan, lebih baik menulis berdasarkan urutan meskipun hasilnya pasti tak istimewa.

Ayo dimulai.


Di tengah suasana tidak menentu karena bapak (ayah istriku) sakit keras, pernikahan ini akhirnya terlaksana. Sempat terpikir hanya akan dilangsungkan pemberkatan di gereja, tanpa resepsi. Tapi dengan pertimbangan banyak hal, resepsi pun diadakan. Tidak besar-besaran. Tapi cukup membuat bahagia karena bisa mengucap syukur bersama kerabat terkasih.


Ada blessing in disguise. Karena bolak-balik ke rumah sakit mengurus bapak yang sakit, aku dan istriku tidak terlalu cemas dengan proses pernikahan. Yang terjadi terjadilah. Yang penting kawin! Hasilnya, kami tidak seperti pasangan lain yang mungkin panik tentang bunga yang harus dipasang, baju yang harus dipas, atau makanan yang dipesan. Kami biarkan semuanya terjadi. Kalo nanti makanannya tidak enak ya yang penting ngga keracunan. Atau tukang fotonya tidak hadir, ya nanti tinggal minta foto dari kamera handphone dari kerabat yang hadir.



Untungnya, semua ketakutan tidak terjadi. Makanan (katanya) enak dan berlebih. Tukang foto datang dan berlebih. Maksudnya berlebih, banyak fotogafer dadakan yang memotret kami. Dari teman bapak yang fotografer profesional yang kebetulan merekam seluruh kegiatan dari acara gereja hingga di gedung, sepupu yang belajar motret, hingga handphone handai taulan yang ada kameranya, semuanya menghadirkan semua peristiwa dari berbagai sudut. Itu yang aku maksudkan berlebih. Tentu saja teman fotograferku dalam mencari makan jadi tukang foto kawinan aku suruh motret. Biar murah.

Selanjutnya, bulan madu ke Ujung Kulon.

Lha, bulan madu kok ke Ujung Kulon. Lihat badak kawin? Tidak saudara-saudara. Banten bagian barat, memanjang dari Carita, terus ke selatan, melewati Taman Nasional Ujung Kulon, terus ke Samudra Hindia ternyata menyimpan pesona wisata bahari yang mencengangkan. Pantai putih dan laut yang biru belum terlalu diperhatikan pemerintah. Kami memilih Pulau Umang, sebuah pulau kecil 20 km sebelum Taman Nasional sebagai tempat melepaskan diri.

Perjalanan cukup jauh, 4 jam. Pemandangan bagus, namun jalan di beberapa tempat rusak. Kalau pemerintah Banten ingin serius mengelola kawasan pantainya menjadi tujuan wisata yang baik, infrastruktur tampaknya banyak perlu dibenahi. Tuhan sudah menganugerahkan alam yang indah. Manusia harus berusaha memanfaatkan dengan baik.



Jauh-jauh ke sini, eh bertemu dengan teman kantor, Riri, yang sedang berlibur bersama keluarganya. Riri ternyata suka berpetualang juga. Jadilah ia dan keluarganya beserta kami bersama-sama mengadakan perjalanan ke Pulau Oar, 5 menit jauhnya dari Pulau Umang.


Kegiatan standar yang bisa dilakukan di Pulau Oar adalah snorkeling, bermain jetski, dan tentu saja berenang. Sebenarnya ada kesempatan untuk mencapai Taman Nasional. Sayang sewa perahunya mahal jadi harus mengumpulkan banyak orang. Selain itu kami kekurangan waktu, harus kembali ke Jakarta.

Kembali ke Jakarta, artinya melakukan tugas rutin sehari-hari. Sekarang bertambah menjadi suami yang artinya menjadi tukang ojek mengantar istri bekerja sampai Kampung Rambutan dan tugas-tugas lainnya yang pasti tidak menarik kalau dituliskan di sini.




BACA SELENGKAPNYA..

Monday, June 02, 2008

Oendangan


Kalaoe tiada halangan jang berarti, kalaoe selesma tiada menjerang warga Batavia seperti taoen laloe, toean dan njonja teman daripada sahaja dioendang oentoek tiba di pesta berkahwinnja saja dengan saja poenja perempoean poedjaan.

Mohon djangan dibajangkan pesta seperti toean dan njonja biasa berdansa di gedoeng Harmonie di depan cantoor Governoor sebela oetara Lapangan Gambir. Tapi bila toean dan njonja sekedar maoe mengibing, ada kerontjong dan gambang djoegalah.


Diberkatinja sahaja, anak toekang bikin gigi palsoe dengan Soesi Loesiani, anak goeroe di sekolah rakhajat dari Kampoeng Kranggan dilakoekan di boelan djoeli tanggal 5 poekoel 10 pagi di Indische Christelijke Kerk deket pondok jang gede bener, poenya Toean Tanah Lendeert dan njainja Inten. Administratie berkahwinnja sahaja djoega dilakoeken disitoe.

Pesta berkahwin diadakan tiada jaoeh dari sitoe poekoel 7 malam. Djaoehnja dari kampoeng poenya orang aseli jang soenggoeh berdjoeta pohon ramboetannja, kira-kira habis satoe karoeng roempoet boeat koeda toean poenja sado ataoe bendi. Orang sitoe menjeboetnja Loebang Boeaja. Memang doeloe kata bapa sahaja semasa Belanda masih di dalam benteng kota dan beloem masoek gara-gara Menteng dibikin roemah-roemah, banjak boeaja di sitoe. Boeaja djadi2an moengkin.

Mentjari gedoeng berkahwinnja sahaja gampang sadja. Kalaoe toean naik trem nomor satoe dari BEOS, tjari sadjalah djoeroesan ke arah Gedoeng Harmonie. Dari sitoe silakan naik trem nomor 2 toeroen di Pasar Senen deket setasion kreta disamboeng trem ke arah roemah wijkmeester deket Kampoeng Melajoe. Dari sitoe ada angkoetan sado ke Loebang Boeaja.

Kalaoe toean soeda tiba di Loebang Boeaja, tjari sadja gedoeng berwarna biroe depan toko kelontong poenja babah Lim Tjio San. Khabarnya, anak babah Lim jang perempoean tjantik lagi pande menjanji. Lagoe kesoekaannja ijalah Indoeng-indoeng, Bong Tjeng Kawin, dan Menoelis. Ini lagoe2 boekannja boeat menari, tapi boeat mendapat taoe zanger alias zangeres (Tjio Kek) poenja seni swara.


Djangan loepa membawa roempoet doea karoeng kalaoe toean membawa sado sendiri biar koeda toean tiada kelaparan selama menoenggoe toean dan njonja di atjara berkahwinnja saja dengan saja poenja tjalon bini.

Tjatatan: silakan pentjet gambar di atas soepaja bisa disimpen di toean dan njonja poenja computer


BACA SELENGKAPNYA..

Tuesday, February 26, 2008

Peranakan

Apa yang mempersamakan bakpia, nasi campur, dan lumpia? Banyak hal, namun kalau dilihat dari asal-usul kebudayaan tempat ketiga makanan itu berkembang, kebudayaan Tionghoa peranakan adalah yang mempersamakannya.

Istilah "peranakan" sendiri muncul ketika gelombang migrasi terakhir kaum Tionghoa terus berdatangan ke Nusantara dari Tiongkok daratan di awal abad 20. Untuk membedakan Tionghoa totok yang baru tiba dengan Tionghoa generasi kedua atau ketiga, timbulah istilah "peranakan" untuk para generasi kedua-ketiga tersebut. Perlu diketahui, ada tiga gelombang besar suku Tionghoa datang ke bumi pertiwi. Yang pertama terjadi pada sekitar abad 15 (Laksamana Cheng Ho datang ke Indonesia juga pada masa itu). Yang kedua adalah ketika terjadi masa perang opium di daratan Tiongkok pada awal 1800-an. Yang terakhir pada awal abad 20.

Selain itu, Tionghoa peranakan biasanya memiliki darah campuran dengan penduduk setempat. Hal ini terjadi karena imigrasi gelombang pertama, kebanyakan yang berimigrasi adalah pria. Saat mereka menetap, mereka memilih untuk mengawini perempuan setempat.

Buku Politik Tionghoa Peranakan di Jawa adalah satu dari sedikit buku yang mengulas sepak terjang kaum Tionghoa peranakan, dengan segala masalah politik di belakangnya. Leo Suryadinata, sang penulis yang mengajar di National University of Singapore, sengaja mengulas sepak terjang kaum Tionghoa peranakan hanya di pulau Jawa antara masa awal kebangkitan nasional hingga masa kemerdekaan Indonesia karena pada masa itu kaum Tionghoa peranakan ini terpecah menjadi tiga bagian.

Mari kita simak lebih lanjut. Perlu diingat bahwa pada awal abad 20, politis etis negri Belanda sedang hangat-hangatnya sehingga menginginkan adanya perwakilan dari kaum Tionghoa dan pribumi masuk dalam Dewan Rakyat (Volksraad). Di sisi lain, kaum nasionalis Tiongkok di daratan mengeluarkan aturan bahwa setiap orang Tionghoa di luar negri Tiongkok tetaplah warga negara Tiongkok. Bisa ditebak, kaum Tionghoa peranakan terpecah antara menjadi warga yang tunduk kepada ratu di negri Belanda atau tetap berafiliasi dengan tanah leluhur. Kaum yang berafiliasi kepada tanah leluhur berada di bawah bendera Sin Po, sedangkan yang menganggap dirinya warga negara Hindia Belanda berada di bawah panji Chung Hwa Hui (CHH).

Jaman terus bergulir, dan kedua pihak ini tidak pernah satu kata. Semuanya menjadi kompleks ketika masa-masa revolusi yang makin menghangat dengan semangat Indonesia merdeka. Dari kaum peranakan, timbulah pula kaum Tionghoa yang menginginkan Indonesia merdeka. Mereka membentuk partai yang dinamakan Partai Tionghoa Indonesia (PTI) pada tahun 1932. Bagi mereka, kemerdekaan Indonesia adalah sesuatu yang harus diperjuangakan kaum Tionghoa karena di sinilah tempat mereka berpijak. Bukan negri Belanda yang nun jauh di sana, bukan pula daratan Tiongkok.

Ketiga kelompok ini memiliki basis pengikut di beberapa kota. Kaum Sin Po sangat kuat di Batavia. Mudah ditebak, Batavia saat itu sudah sangat kosmopolitan dan kebanyakan pendatang totok yang baru tiba sampai di Nusantara melalui Sunda Kelapa. Tak heran pengaruh Tiongkok sangat kuat di kota itu. Kaum CHH kuat di Semarang. Tak lain karena kebanyakan yang tinggal di sana adalah peranakan yang sudah tiga generasi menetap sehingga sangat kuat keterikatan dengan Hindia Belanda. Di Surabaya PTI kuat karena banyak pergerakan kaum muda pribumi yang menginginkan kemerdekaan timbul di kota itu. Tiada heran kaum Tionghoa di sana banyak terbawa arus kuat itu.

Buku yang diterbitkan Sinar Harapan tahun 1986 ini memang lebih kuat mengulas unsur politik. Persinggungan dengan ranah kebudayaan hanya disinggung untuk melengkapi uraian politik. Sedikit contoh dari yang diulas, di buku ini ditulis bahwa perempuan kaum peranakan biasanya memakai kebaya seperti perempuan pribumi.

Dibanding buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa karya Ong Hok Ham yang lebih mengulas unsur kebudayaan, buku ini sedikit hambar. Maklum, ditulis untuk kepentingan studi politik. Beda dengan tulisan Pak Ong yang memang dasarnya tukang makan, sehingga isi bukunya serasa memesan semeja penuh masakan babah (istilah kuliner untuk Tionghoa peranakan). Tapi buku karya Leo Suryadinata ini membuka pemikiran bahwa dari kaum Tionghoa muncul pula pergerakan Indonesia merdeka.

BACA SELENGKAPNYA..

Friday, February 15, 2008

Angky


Apa perasaan orang tua Dian yang terkenal itu memiliki anak yang cantik? Bangga mungkin karena banyak yang memuja? Atau justru takut karena banyak yang mengincar?

Sejak adikku memelihara kucing betina, aku mungkin bisa, paling tidak ikut merasakan, bagaimana takutnya (dan segala kekhawatirannya) para orang tua yang memiliki anak gadis yang cantik. Ya, si Angky, kucing betina lokal peliharaan adikku, ternyata lumayan ngetop di antara sesama kucing jantan di kampungku. Sejak ditemukan dalam keadaan lusuh oleh bapakku di stasiun Jatinegara, lalu diberi nama oleh adikku yang satunya lagi Angky Jeremi (menurutnya Angky Jeremi adalah"ditemukan di angkringan Jatinegara"), lalu dirawat dan dimandikan oleh ibuku, Angky berubah menjadi kucing yang bersih dan terawat. Namun gara-gara itu, setiap hari tugas kami di rumah adalah mengusir kucing-kucing jantan yang rupanya sedang mengincar untuk mengawini Angky.

Tidak jarang ketika aku memasuki kamarku, aku mendapati kucing jantan yang lusuh sedang mengendap-endap hendak "menyatakan cintanya" kepada Angky. Kalau sudah begitu, kami harus buru-buru mencari sapu lidi untuk mengusir kucing-kucing yang sedang dilanda asmara itu.

Aku tidak tahu daya pesona apa yang dimiliki oleh Angky sampai dipuja oleh beberapa kucing jantan. Cantik? Masalahnya aku tidak tahu konsep kecantikan apa yang sedang ngetrend di dunia perkucingan akhir-akhir ini. Akhirnya untuk mencegah agar kami tidak kecolongan, apalagi di tengah globalisasi dengan film-film yang tidak mendidik, bapak dan adikku membawa Angky ke dokter hewan untuk diberi suntikan KB. Hitung-hitung mensukseskan program pemerintah.

BACA SELENGKAPNYA..

Friday, February 01, 2008

Bedugul

Lumayan terkejut mendapat email dari Air Asia bahwa saya juara kedua kontes foto Air Asia untuk bulan September. Secara pribadi memang saya menyukai foto yang saya buat ini. Namun seumur-umur belum pernah saya menang kontes-kontesan. Dari lomba kelereng atau deklamasi tingkat RT hingga kontes abang-none atau raja ratu sejagat, semuanya cuma ada di awang-awang.

Sedikit cerita tentang proses foto ini. Saat saya tinggal di Bali tahun lalu, Steve mengajak saya ke danau Bratan di kawasan Bedugul, Bali. Menggunakan sepeda motor masing-masing, kami berdua beriringan menuju kawasan Bali bagian utara tersebut. Sepanjang jalan hujan turun, namun berhenti ketika kami mencapai Bedugul.

Pura di tengah danau selalu menawarkan sesuatu yang baru buat saya. Sudah beberapa kali saya ke sana, namun selalu ada hal baru yang ditemui. Begitu pula saat itu, berharap sebuah pengalaman baru yang akan mewarnai hidup kelak akan datang menghampiri.

Namun baru sekitar 1 jam kami di sana, kabut turun sangat cepat. Padahal masih jam 3 sore. Batas pandangan hanya 1 meter. Entah mengapa saya justru melihat ada peristiwa yang menarik saat itu, ketika nelayan yang buru-buru menepikan perahunya terselimutkan kabut tebal. Sedikit bimbang, takut kabut yang pekat akan menghancurkan lensa. Tapi dipikir-pikir, peristiwa seperti itu jarang terjadi. Dengan sedikit melindungi lensa menggunakan handuk, saya mengabadikan beberapa peristiwa yang menarik itu.

Lumayan, dapat tiket 100 ringgit Malaysia dari Air Asia.

BACA SELENGKAPNYA..

Wednesday, December 26, 2007

Kendaldoyong

Desa Kendaldoyong adalah desa yang terletak kira-kira 20 km selatan kota Pemalang, Jawa Tengah. Penduduknya sebagian besar bermatapencarian petani. Peternakan dan perkebunan juga menjadi sebagian sumber pencarian, tapi persawahan padi tetap yang utama.

Desa ini merupakan tempat nenek moyang tunangan saya bermukim. Meskipun hanya menghabiskan sebagian kecil hidupnya di desa ini, nampaknya Kendaldoyong cukup berkesan baginya. Banyak yang sering diceritakannya tentang desa ini. Juga tentang sebuah gereja kecil di tengan dusun di pojokan desa. Dengan mata berbinar ia bercerita tentang sebuah gereja ini yang berlatar belakang masyarakat perdesaan dan jemaat-jemaatnya adalah petani-petani yang sederhana.

Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di kota besar, saya sendiri beranggapan bahwa gereja kadang dibangun terlalu mewah. Di kota-kota besar pembangunan gereja sering menghabiskan biaya bermilyar-milyar. Dari luar gereja menjadi terlalu angkuh. Kaya kulitnya, tapi isinya siapa yang tahu.

Maka ketika liburan panjang antara Idul Adha danNatal lalu tunangan saya mengajak berkunjung ke Kendaldoyong, tak butuh waktu lama bagi saya untuk setuju.

Gereja Kristen Protestan yang berada di bawah naungan jemaat Gereja Kristen Jawa ini sudah mulai ada di awal 1900an. Cukup tua memang. Ia melayani sekitar 100 jemaat yang hidup dan tinggal di sekitar gereja kecil itu. Melihat dalamnya, jangan dibayangan sebuah interior mewah yang bisa kita lihat di gereja-gereja besar dan mewah di, katakanlah, Kelapa Gading, Jakarta. Kursi-kursinya sederhana. Dinding dilapisi cat warna putih yang hampir pudar.

Karena jemaatnya adalah penggunaa bahasa Jawa, maka kebaktian diadakan dengan bahasa Jawa. Ada waktu tertentu menggunakan bahasa Indonesia. Kalau Anda mengikuti kebaktian di gereja ini, Anda akan beribadah sambil mencium bau kandang ayam di seberang gereja. Ya, tidak ada parfum Bvlgari atau DKNY yang digunakan oleh jemaat di sini.

Tampak muka bangunan sudah direnovasi beberapa kali. Tapi kondisinya saat ini sudah reyot. Kayu-kayu penyangga genting banyak yang lapuk.

Sebagai sebuah gereja yang melayani masyarakat desa, maka masalah yang dihadapi adalah masalah khas masyarakat desa di seluruh Nusantara. Apa? Yaitu kekurangan sumber daya manusia. Benar, desa-desa di seluruh Nusantara dewasa ini ditinggal manusia-manusianya yang mencari peruntungan di kota. Desa sudah tidak menjanjikan apa-apa. Semua menuju ke kota. Petani bukan profesi yang dipandang dengan hormat.

Organ di gereja ini sudah lama menganggur. Sebabnya, pemusik satu-satunya yang biasa memainkannya saat ini bekerja di Tegal menjadi penjaga toko kacamata. Alhasil, setiap kebaktian jemaat bernyanyi tanpa iringan musik.

Kilau gemerlap kota memang menarik pemuda dari seluruh desa setiap pelosok bumi pertiwi. Bukan cuma Jakarta, tapi juga Medan, Surabaya, Makasar, Jayapura menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki desa saat ini: uang. Kalau kita melihat contoh di atas, Tegal bahkan tetap lebih baik dibanding Kendaldoyong.

Melihat kenyaataan ini, tidak heran kalau produksi pertanian di Nusantara tidak pernah baik. Seluruh putra putri terbaik sekarang hidup di kota. Bekas pembantu rumah tangga yang aku temui pada lebaran 2 tahun lalu bercerita bagaimana setiap lulusan SMA di kampungnya di Jawa Timur memilih untuk mengadu nasib di kota dibanding harus menggarap sawah. Lebih baik menjadi penjaga toko bergaji 600 ribu sebulan dibanding mencangkul.

Namun di tengah segala tantangan itu, Kendaldoyong tetap akan berusaha menjadi sebuah desa yang sederhana dengan masyarakat yang sederhana pula sambil berusaha menghidupi dirinya sendiri, meski sedikit terengah-engah. Di tengah suasana natal yang hingar bingar tapi tanpa makna di setiap pusat perbelanjaan di kota besar, di desa ini denyut natal dirasakan sambil melihat mbah tua yang membawa arit untuk memotong rumput bagi ternak kambingnya.

Ah, lalu saya teringat dengan bayi Yesus yang lahir di kandang kambing.

BACA SELENGKAPNYA..

Tuesday, December 18, 2007

Deddy

Penonton layar kaca di Indonesia sejatinya patut berterima kasih kepada Deddy Mizwar. Di tengah kepungan serial televisi yang berisi ibu-ibu rumah tangga yang melotot dan bergosip, anak-anak SMP yang menggunakan lipstik dan mengeluarkan kata-kata kasar, serta hantu yang bergentayangan, Deddy Mizwar selalu menawarkan sesuatu yang lain dan juga baik.

Pada bulan puasa lalu, meskipun saya tidak menjalankan ibadah puasa, di kepungan program sinetron yang dibuat tanpa konsep serta kuis yang dibawakan oleh Komeng dan kawan-kawan yang isinya tidak mendidik, saya sungguh menikmati sinetron Para Pencari Tuhan yang disutradarai dan dimainkan oleh beliau. Sinetron itu memang bernafaskan Islam, tapi isinya sungguh universal menembus sekat-sekat agama. Bang Deddy pun, dalam sinetron ini, sungguh terasa bahwa dia tidak menginginkan sinetron ini menjadi sinetron yang menggurui.

Kelemahan sinetron-sinetron di televisi kita yang masuk tanpa batas ke ruang keluarga dan ditonton anak dan adik kita sesungguhnya ada pada tema yang terlalu hitam putih. Setiap tokoh melulu digambarkan terlalu baik dan terlalu jahat. Padahal kehidupan selalu dalam tataran abu-abu.

Dalam sinetron Para Pencari Tuhan, Bang Deddy tidak segan menggambarkan ustad yang humoris namun manusia biasa yang bisa jadi pemarah di satu saat, pengangguran yang sebenarnya punya niat untuk jadi seorang yang berguna, atau kehidupan sebuah langgar yang tidak melulu isinya ceramah tentang surga. Saya, sebagai penonton, merasa sebuah kesejukan dari kisah yang seakan-akan terjadi di samping rumah kita. Begitu apa adanya.

Beberapa waktu lalu, Deddy Mizwar meluncurkan film Nagabonar jadi 2, sebuah sekuel dari film Nagabonar yang juga diperankan beliau. Di film layar lebar ini dia juga bekerja sebagai sutradara selain memerankan tokoh utama. Memang sosok Nagabonar sangat kuat melekat pada diri Deddy Mizwar. Sejak film Nagabonar tahun 1987, tidak ada film lain yang diperankannya yang meledak (selain Cintaku di Rumah Susun, film-film yang diperankannya berada dalam tataran biasa-biasa saja. Padahal beberapa film sebelumnya seperti Bukan Impian Semusim sangat baik di mata pemerhati film nasional. Memang lesunya industri film layar lebar pada masa itu ikut serta meredupkan karirnya) sehingga sosok si Nagabonar terus melekat pada dirinya di masyarakat.

Film Nagabonar Jadi 2 ini lagi-lagi menawarkan konsep pilihan yang selama ini kurang dianggap: nasionalisme dalam bungkus humor. Ternyata bisa jadi menarik juga seperti film pendahulunya. Di film Nagabonar, tokoh utama ditempatkan pada masa revolusi yang memang harus berjuang vis a vis langsung berhadapan dengan penjajah. Di film Nagabonar Jadi 2, sebuah bangsa yang sudah merdeka justru dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang dibuat sendiri. Di tataran inilah Deddy Mizwar berperan untuk mengingatkan bahwa segala hal yang telah diperjuangkan ini sepatutnya dirawat dan dijaga dengan baik.

Saya akui, setelah menonton Nagabonar Jadi 2, saya berpendapat film ini masih belum sebaik pendahulunya. Kekuatan skenario yang ditulis Asrul Sani di film Nagabonar tidak didapat di Nagabonar Jadi 2. Jalan cerita menjadi terasa kurang mulus dan tergagap-gagap. Karakter tokoh juga ada yang terlalu mengada-ada.

Di luar itu, film ini cukup menyegarkan dunia perfilman republik ini. Kalau orang menggunakan film sebagai gambaran sebuah bangsa, seperti kita melihat Amerika dengan film Hollywoodnya dan India dengan Boolywoodnya, kita tentu tidak ingin orang luar menganggap bangsa kita adalah bangsa yang penuh dengan hantu dan setan serta remaja norak.

Pada Festival Film Indonesia 2007 yang baru usai, Deddy Mizwar mendapat anugerah Citra untuk pemeran pria terbaik atas permainannya di Nagabonar Jadi 2. Film terbaik dan sutradara terbaik tidak mampu disabet. Menurut juri, Deddy Mizwar masih terlalu asik bermain bagus sendirian di film ini sehingga tokoh-tokoh lainnya kurang tergarap. Cukup adil.

Maju terus Bang Deddy!

BACA SELENGKAPNYA..

Wednesday, December 12, 2007

AMI


Beberapa hari yang lalu, temanku semasa kuliah di Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia sedikit bercerita tentang sebuah polemik. Ini ada hubungannya dengan sekumpulan arsitek yang menganggap diri mereka muda, sering berserikat dan berkumpul, serta menamakan diri mereka Arsitek Muda Indonesia (AMI).

Pendek kata, cerita temanku itu, ada sebuah film dokumenter yang sedang dibuat menceritakan tentang sejarah panjang perjalanan arsitektur di Indonesia. Beberapa arsitek yang ikut menjadi bagian sejarah itu diwawancara. Dari era Soewondo Bismo Soetedjo, Han Awal, dan kawan-kawan yang menjadi bagian dari perjalanan pendidikan arsitektur Indonesia di awal kemerdekaan, berlanjut ke era Yuswadi Saliya bersama Atelier 6, lalu Goenawan Tjahjono dan Budi Sukada, sampai ke era Arsitek Muda Indonesia. Beberapa arsitek yang benar-benar memang masih muda, beberapa saya kenal sebagai junior di kampus, turut pula diwawancara.

Entah karena ketidaksigapan sang sutradara, atau kesalahan editor, atau memang nasib sedang tidak baik (Benyamis S., pelawak almarhum kebanggaan kita bersama, mengistilahkan sebagai "bintang lagi gelap"), justru arsitek-arsitek muda junior saya itulah yang dalam film tersebut ditulis sebagai "Arsitek Muda Indonesia".

Tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada pembuat film. Menurut temanku, mereka arsitek, mereka masih muda, dan mereka, saya tahu persis hal ini, warga negara Indonesia dan bangga karenanya. Tidak salah kan sebenarnya kalau mereka disebut arsitek yang masih muda dari Indonesia? Tapi cerita berlanjut. Para AMI itu, yang di film tersebut justru tidak muncul batang hidungnya karena diganti "anak kemarin sore" tidak terima kalau "anak ingusan" yang dianggap AMI.

Sialnya (benar-benar bintang lagi gelap), beberapa "anak kemarin sore" itu bekerja di kantor arsitek yang dipunya para "AMI-AMI" itu. Yah, kata-kata panas, sindiran dari para bos, hinggap di kuping mereka. Intinya, mereka tidak rela nama AMI disandang si bau kencur.

Akhirnya, "AMI asli" meminta "AMI palsu" untuk menyelenggarakan pameran arsitektur sebagai proses memasuki AMI sesungguhnya. Cukup adil, tapi aneh.

AMI sendiri bukanlah sebuah organisasi resmi, hanya forum diskusi. Semuanya dimulai ketika para penggagasnya baru lulus dari dunia akademis di penghujung tahun 80-an. Mereka resah akan dunia arsitektur di Indonesia yang tidak menawarkan pemikiran baru dan mulai dikooptasi arsitek asing. Sebuah gagasan yang mulia dan penuh idealisme.

Saat itu mereka memang masih muda. Jiwa-jiwa memberontak memang selalu tumbuh di tubuh yang masih muda, bukan?

Dalam perjalanan waktu, beberapa orang yang bergiat di dalamnya seperti Marco Kusumawijaya memang menonjol dalam perlawanannya demi kota-kota di Indonesia yang manusiawi. Beberapa mendirikan biro konsultan yang cukup punya nama. Beberapa menjadi penanda bahwa perjuangan mereka untuk menjadikan arsitek Indonesia menjadi tuan rumah di negri sendiri cukup berhasil. Karya-karya mereka menghiasi majalah-majalah dan buku-buku di rak-rak toko buku utama. Masyarakat semakin mengerti pentingnya arsitek dalam dunia sehari-hari. Mahasiswa arsitektur menjadikan mereka patron, termasuk saya.

Semakin tua, orang semakin bijak. Juga semakin mapan. Kemapanan membuat pemikiran mandek, tidak lagi mencari sesuatu yang baru. Beberapa memang terus melaju dengan pemikiran dan bangunan yang cerdas. Sayangnya, beberapa di dalam diri mereka selalu menganggap mereka masih pantas menyandang arsitek dari Indonesia yang muda, namun sesungguhnya stagnan dalam ide.

Kritikan-kritikan terhadap mereka sering ditanggapi dengan defensif oleh mereka dalam forum-forum diskusi. Arsitek-arsitek yang benar-benar muda dan segar yang baru lulus merasa lelah dengan bangunan-bangunan "itu-itu saja" yang dihasilkan AMI-AMI ini.

AMI dianggap terlalu "Jakarta-Bandung sentris". Padahal Indonesia jauh lebih luas dari itu. Mereka juga dianggap terlalu "nyelebritis". Selain itu sering terlalu berpacu dalam tataran kulit melulu. Tentang ini, Andrea Paresthu, seorang urbanis yang sedang mengajar di Eropa pernah menulis kritikan yang tajam di Kompas. Waktu itu AMI sedang melaksanakan proyek mengecat rumah kumuh di Teluk Gong di Jakarta Barat. Buat Paresthu, proyek ini sangat populis, menghabiskan uang, tidak ada dampaknya bagi penghuni, dan terbukti, permukiman itu tidak berubah menjadi lebih baik. Tidak ada pemberdayaan masyarakat di sini. AMI mencontoh Romo Mangun di proyek Kali Code, tapi sekali lagi kulitnya saja.

Romo tinggal dan berbincang dengan penduduk. Romo mendengarkan kebutuhan penduduk. Romo mendampingi. AMI? Datang, membagi-bagi cat dinding, mengecat bersama mahasiswa dan sebagian penduduk, foto bersama, lalu ditinggal. Selesai.

Karena media di Indonesia juga masih Jakarta sentris, tidak aneh bila arsitektur Indonesia didominasi sepak terjang AMI. Tentu saja arsitektur Indonesia saat ini tidak melulu AMI. Sungguh. Banyak arsitek jauh dari sudut-sudut gemerlap kota besar yang bekerja sepenuh hati menjaga integritas profesi dengan pemikiran segar. TIME edisi 10 Desember 2007 menulis tentang Eko Prawoto, arsitek asal Yogyakarta. Eko Prawoto sangat cerdas memainkan material lokal dalam ranah arsitektur modern. Kiprah barefoot architects di Aceh dan Nias juga sangat perlu kita apresiasi. Pendampingan mereka bersama masyarakat lokal menyadarkan bahwa arsitek tidak cuma diperlukan oleh bintang film, pengusaha, pejabat, atau seniman. Arsitek bisa berperan di masyarakat bawah. Jauh lebih berperan.

**Foto: Sampul Buku Watucitra karangan Y. B. Mangunwijaya, S. J.

BACA SELENGKAPNYA..

Thursday, November 15, 2007

Setia

Setelah sekian lama banyak tidak bertemu dengan lingkaran pertemanan di Jakarta, entah karena sempat magang ke Sydney, istirahat di rumah gara-gara sendi bahu yang lepas, lalu bekerja di Bali selama 8 bulan, akhirnya aku berhasil memetakannya. Teman di masa SD-SMP-SMA, teman masa kuliah, teman di pekerjaan yang lalu, akhirnya perlahan-lahan, satu demi satu, banyak yang aku jumpai lagi.

Banyak yang muncul secara tak terduga. Ada yang bertemu karena sama-sama datang ke pesta pernikahan. Ada yang janjian karena minta aku menjadi fotografer untuk foto pre wedding atau sekedar foto keluarga. Ada yang tiba-tiba tengah malam telepon minta bangunan hasil karyanya didokumentasikan. Ada yang mengajak bertemu untuk menawarkan bisnis MLM (huh...). Mengajak berkunjung ke rumahnya untuk melihat anaknya yang baru lahir atau sekedar berbincang di warung kopi tentang hidup yang berlari cepat, ah itu semua benar-benar terjadi di beberapa waktu ini.

Senang, tapi mereka banyak yang terkejut kalau aku mulai mengeluarkan telepon selulerku. "Hah, HP elu ga ganti, Bham?", "Masih yang itu?", "Pelit amat sih elu, HP udah buluk masih dipake! Ganti napa?", "Buset, Handphone 4 tahun masih belum diganti!" itu kata-kata yang banyak keluar.

Lucu, geli, sedikit semriwing, semua bercampur jadi satu. Aku jadi mulai sadar bahwa telepon ini memang sudah berusia cukup tua. Ia dibeli akhir tahun 2003 untuk menggantikan ponselku yang hilang waktu itu. Hmmm, aku yakin kalau ponsel itu tidak hilang, maka telepon yang aku pakai pastilah telepon yang dulu itu.

Kadang memang timbul pertanyaan, haruskah aku mengganti benda kecil yang sudah aku bawa berkeliling kemana-mana itu? Ia masih satu warna, deringnya masih monoponic, tidak ada kameranya, tidak ada MP3 player, tidak ada radio, juga tentu saja tidak bisa dipakai untuk menyapu, mengelap meja, atau remote controller untuk televisi. Tapi, meskipun begitu ia bandel, sudah beberapa kali jatuh, tapi cuma bopeng-bopeng, sedangkan fungsinya seperti sediakala. Aku sudah hapal dengan tombolnya, sehingga meskipun nomor-nomor di tombol sudah hilang semua, aku dapat ber-sms dengan mudah.

Waktu aku beli tahun itu, harganya 450 ribu rupiah. Murah bukan? Merknya Motorola, serinya aku tidak pernah tahu. Yang aku tahu, telepon seluler ini tidak pernah menggugah orang untuk mengambilnya. Pernah beberapa kali tertinggal, ia selalu tetap di tempat semula. Ya, siapa maling bodoh yang mau beresiko mengampil barang yang dijual di pasar gelap pun tidak laku?

Telepon seluler ini diproduksi dengan standar ISO yang tinggi lho, yaitu iso muni (bahasa Jawa, artinya bisa bunyi). Benar-benar bisa bunyi untuk telepon dan sms. Tapi kata Mas Tukul, yang penting bukan chasing-nya tapi sinyalnya. Setuju, Mas.

Tapi jujur, aku memang tidak butuh telepon yang berfungsi macam-macam. Butuh kamera? Lha wong kerjaanku jadi tukang foto, aku punya kamera yang jauh lebih canggih dibanding kamera di ponsel. Butuh denger musik? Ya tinggal setel aja walkman tuaku. Juga bisa dibawa kemana-mana kok. Butuh sapu untuk membersihkan rumah? Semua handphone tidak bisa untuk menyapu, jeng.

Pelit? Ups, tunggu dulu. Kalau setiap tahun harus ganti ponsel karena sudah tidak up to date, aku tentu bukan orang seperti itu. Mungkin pengeluaranku untuk beli buku atau majalah selama setahun jauh lebih besar dibanding sekedar mengganti telepon selular. Ngga pede? Ah, sampean ini lucu. PD kan bukan dari ponselnya, tapi ya kata Mas Tukul itu tadi, yang penting "sinyalnya".

Aku tentu tidak akan mengatakan, ia untuk selama-lamanya. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Suatu saat telepon ini pasti akan meninggalkanku. Entah hilang (bukan dicopet pastinya. Kasian pencopetnya kalau mengambil telepon ini), mungkin juga suatu saat benar-benar rusak. Kalau itu benar terjadi, aku akan mengganti ponselku dengan damai, karena aku sudah menjadi setia baginya, seperti ia telah begitu setia bagiku.

BACA SELENGKAPNYA..

Tuesday, October 23, 2007

Kangen

Ini bukan sebuah tulisan tentang romansa. Ini tentang, katakanlah, seekor kodok yang dicium oleh putri raja, lalu berubah menjadi pangeran tampan, lalu mempersunting sang putri dan mewarisi kerajaan. Sudah sering bukan kita membaca legenda-legenda semacam itu? Kita selalu melihat dari sisi cerita yang berakhir bahagia. Tapi pernahkah kita berpikir, bukankah tidak mudah bagi kodok yang berubah jadi pangeran atau cinderella miskin yang mendadak sontak hidup di istana menjalani hidup baru mereka yang sama sekali baru.

Ini pula yang sedang dialami Kangen Band. Berawal dari penjaja cendol, penjaga sepatu, atau penggenjot becak, kini mereka berada dalam kilauan panggung musik, memiliki album, dan lagunya banyak diputar di radio. Terlihat seperti sebuah cerita-cerita Disney bila kita menghentikan tulisan di sini. Tapi seperti sudah saya sebutkan di atas, pernahkah kita berpikir bagaimana sang pangeran yang dulunya "kodok" menjalani hari lepas hari? Bagaimana Cinderella harus bersikap di ruang makan dengan tata laku yang kaku dan banyak aturan? Tidakkah banyak pihak yang benci (antara lain mungkin karena gagal mewarisi kerajaan atau harta) yang mengungkit-ungkit masa lalu mereka?

Ya, itu yang dialami Doddy, Andika, Tama, Lim, Nory, dan Barry, para personel Kangen Band. Menjadi pangeran yang masa lalunya kodok ternyata tidak mudah. Banyak yang meragukan kemampuan mereka bermusik (sayangnya, suka atau tidak, kemampuan mereka memang pas-pasan kalau mau tidak dibilang buruk). Tidak sedikit juga yang mengatakan mereka menghancurkan musik Indonesia. Bahkan sebuah grup band rap asal Bandung mengeluarkan lagu makian khusus untuk mereka. Wajah mereka dikatakan tidak layak tampil.

Tapi, ini yang menjadi anomali, dengan kemampuan bermusik yang pas-pasan, dan wajah "seperti tetangga sebelah rumah", lagu mereka digemari kalangan bawah. Tanpa video klip mereka diputarkan stasiun televisi MTV, lagu-lagu bajakan mereka laku keras. Alhasil undangan manggung mengalir deras untuk mereka, bahkan hingga Malaysia dan Hongkong (untuk menghibur para TKI tentunya, bukan mengadakan konser di Stadion Bukit Jalil atau Hongkong National Stadium).

Dicaci tapi dipuja. Dibilang jelek tapi laku dimana-mana. Ndeso, katro, kampungan, tapi muncul di televisi, radio, dan koran. Tapi bukankah wajah Kangen Band adalah wajah kita, bangsa Indonesia? Lalu apa bedanya Kangen Band dengan anggota DPR yang menyebalkan tapi selalu menghiasi hari-hari kita dengan selalu ada di media massa?

Kita sebal, tapi bila mereka tidak ada, hidup kita tidak lengkap. Kangen...

BACA SELENGKAPNYA..

Tuesday, September 04, 2007

Remaja

Hari Minggu lalu, setelah sedikit dipaksa oleh adikku yang berusia 15 tahun, aku menonton film remaja Cintapuccino. Lumayan, meskipun tidak terlalu baik. Apalagi aku juga sudah membaca novelnya. Jadi bisa terbayang film seperti apa yang akan ditonton.

Tapi entahlah. Ada yang sedikit harus digugat di sini. Sebetulnya, Cintapuccino, baik dalam bentuk novel dan film, tidak tepat untuk remaja. Di novelnya, banyak diceritakan adegan ciuman dan "hubungan fisik laki-laki dan perempuan" secara gamblang. Di filmnya, juga ada adegan merokok dan semacamnya yang tentu tidak tepat bagi kalangan remaja. Mungkin tepatnya, ini adalah tentang kisah pemudi (Ami, sang tokoh utama) tentang masa remajanya.

Mungkin aku jadi sedikit naif kalau membayangkan bagaimana adik perempuanku yang berusia 15 tahun itu membaca novelnya yang "lumayan dewasa" itu. Apalagi ia membaca novel itu 2 tahun lalu, saat usianya 13 tahun. Aku yang sok dewasa, atau memang justru batas usia remaja itu semakin memuda? Atau justru makin menua, karena hal yang seharusnya diperuntukkan bagi usia di atasnya, justru dengan mudah bisa dinikmati oleh usia yang lebih muda?

Entahlah, tapi aku coba membandingkan dengan diriku ketika aku berusia antara 12 tahun hingga 15 tahun. Hmmm, ketika aku seusianya, batas permainanku adalah bermain sepeda di kampung sekeliling rumahku hingga jauh, bermain bola di kebun rambutan samping rumah Haji Ali, menerbangkan layang-layang sampai genteng rumah tetanggaku pecah, atau kalau membaca, yang aku baca adalah Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, atau beberapa tulisan Gola Gong dan Hilman Hariwijaya. Film yang aku tonton? Saur Sepuh dan sejenisnya yang aku tonton di layar tancap setiap ada hajatan kawinan. Maklum, aku anak kampung. Meskipun jaringan bioskop 21 yang dimiliki pengusaha Sudwikatmono sudah ada di Jakarta, tapi terus terang aku baru menjejakkan kaki di bioskop mewah itu ketika aku memasuki SMA.

Tapi memang zaman berubah. Kebun rambutan tempat aku bermain bola sudah menjadi rumah-rumah petak kontrakan. Layar tancap makin terpinggirkan. Novel-novel dan film-film untuk remaja pun sudah menjadi semakin "tua". Lalu, adikku sudah tidak memiliki pilihan lain selain menikmati yang sudah disodorkan para pemodal besar itu.

BACA SELENGKAPNYA..

Wednesday, July 18, 2007

Garuda


Kapan terakhir kali Anda menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan darah berdesir, bulu kuduk merinding, serta perasaan membuncah? Mungkin tidak pernah?
Kalau Anda menanyakan padaku pertanyaan yang sama, aku akan menjawab itu terjadi padaku pada tanggal 14 Juli 2007 yang lalu. Tidak ada yang istimewa di tanggal itu. Hanya saja aku hadir di Stadion Utama Bung Karno untuk menyaksikan pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Arab Saudi.

Sempat terpikir aku tidak akan mendapat tiket pertandingan karena begitu banyaknya animo masyarakat untuk mendukung tim nasional bertanding. Terima kasih kepada Andy yang berbaik hati memberikan tiket tersisa padaku. Lalu, ketika Indonesia Raya membahana di antara 90.000 orang dengan menggelegar, apa yang bisa kau harapkan lebih jauh selain begitu bangga menjadi bagian dari Indonesia?

Memang Indonesia akhirnya kalah secara tragis. Sundulan di 50 detik menjelang pertandingan terakhir adalah seperti mendapat bencana ketika hadiah sudah ada di depan mata. Tapi jika Anda hadir di stadion itu, atau paling tidak menyaksikan dari layar kaca, tidak ada yang mampu menghapus perjuangan para pemain di lapangan, bahkan sebuah kekalahan pun tidak.

Lihat bagaimana para pemain Indonesia berjibaku di lapangan meskipun secara fisik dan teknik mereka kalah. Di situ aku seperti melihat Indonesia yang sesungguhnya. Ismed Sofyan yang berdarah Aceh, Yandri Pitoy berasal dari Minahasa, Ricardo Salampessy pastinya dari Ambon, Syamsul Bahri jelas orang Makasar, Bambang Pamungkas asli Jawa Tengah, semuanya memakai kaus merah putih yang sama dengan burung garuda di dada. Bagiku, itulah Indonesia seutuhnya. Kekalahan dari Arab Saudi hanya menjadi batu kerikil biasa yang tidak sanggup membuyarkan keindonesiaannya.

Ayo terus berjuang tim garuda! Masih ada kesempatan. Kalahkan Korea. Tunjukkan bahwa kita mampu. Garuda bukan burung perkutut, sang saka bukan sandang pembalut, kata Iwan Fals.

Ayo ayo Indonesia, aku ingin hari ini kamu menang. Ho ho ho ho ho ho ho (nyanyian pendukung Indonesia setiap Indonesia bertanding)

**Update: Indonesia akhirnya tidak lolos setelah dikalahkan Korea Selatan dengan skor tipis 1-0. Tapi tetaplah terbang Garudaku!!**

BACA SELENGKAPNYA..

Wednesday, May 30, 2007

Komang

Komang Arya Tridarma adalah seorang biasa yang berprofesi sebagai guide sekaligus sopir. Ia melakoni profesi itu sejak perusahaan spa tempatnya bekerja memecat dirinya akibat sepinya pengunjung akibat bom di Bali tahun 2002.

Dengan Kijang hitam bernomor polisi DK 1277 CB, Bli Komang menjadi fenomena karena menggunakan jasa blog untuk memasarkan jasanya. Bukan itu saja, dengan menggunakan blog sebagai sarana pemasaran, Bli Komang secara tidak langsung menyiarkan kepada seluruh dunia tentang potensi wisata pulau yang tidak pernah habis untuk ditelusuri ini.

Tidak heran, akibat menggunakan blog sebagai sarana promosi, Bli Komang mempunyai jadwal yang padat. Untuk menggunakan jasanya, Anda harus pesan dan konfirmasi melalui sms.

Memang tata bahasanya tidak sempurna, namun usaha yang telah dilakukannya melebihi dari apa yang kita harapkan dari seorang guide atau supir seperti dia. Jadi kalau Anda berniat mengunjungi Bali dan memerlukan jasa supir sekaligus guide dengan harga yang sangat murah, segeralah kunjungi blognya di www.baliguide.biz. Jangan lupa sampaikan salamku padanya.

BACA SELENGKAPNYA..

Monday, May 28, 2007

Jenar

Nama lengkapnya Jenar Penggalih Wangi. Bapaknya seorang muslim yang lahir dan dibesarkan di lingkungan Hindu Tengger di kaki Gunung Bromo. Ibunya, yang juga adalah sepupuku, berasal dari keluarga muslim Jawa yang taat, yang besar di Sumatra Barat. Jenar sendiri lahir di Tabanan, Bali, di lingkungan permukiman prajurit TNI pangkat rendahan dengan latar belakang yang sangat beragam. Rumah tempat ia tinggal adalah rumah kontrakan milik seorang Sersan Kepala yang berasal dari Papua dengan istri seorang Jawa. Tetangganya, Pak Dewa, seorang TNI berpangkat balak merah satu asal Lombok dengan darah Hindu Bali yang sangat kental. Teman bermainnya adalah seorang anak perempuan sebaya, hasil perkawinan seorang Timor dengan seorang Bali yang beragama Katolik.

Kemarin adalah kali pertama ia bertemu dengan aku, pakdenya (pakde: bapak gede, artinya paman), seorang Kristen Jawa aliran Calvinis dengan keluarga besar yang berlatar belakang kejawen yang lumayan kuat. Ya, sejak proses penciptaannya, Jenar tumbuh di tengah latar belakang yang sangat kompleks.

Jenar Penggalih Wangi sendiri memiliki arti yang indah. Jenar adalah bahasa Jawa dari pohon kemuning, sebuah pohon dengan daun yang sangat indah. Penggalih berarti harapan atau doa. Wangi berarti berbau harum. Jenar diharapkan kedua orang tuanya untuk menjadi seperti daun kemuning yang berbau harum bagi sekitarnya.

Anak-anak seperti Jenar, sejatinya, adalah anak-anak Indonesia dalam artian sesungguhnya. Ia adalah sebuah manifestasi kehidupan anak bangsa yang sedang berakulturasi, menyerap kebudayaan dan ideologi di sekelilingnya, tanpa perlu berubah menjadi orang lain. Anak sekecil ini merupakan buku sejarah nyata yang bisa disentuh sambil dirasakan betapa kayanya negri ini akan beragam budaya, ideologi, agama, dan pandangan. Dari seorang anak kecil seperti Jenar, kita bisa melihat masa depan ibu pertiwi yang baru, sebuah bangsa hasil pertemuan ribuan kecil sel yang bisa bernama Islam atau Buddha, Tengger atau Dayak, nasionalis atau komunis, dan semacamnya.

Tapi sebuah pesan untukmu Jenar, selalu maafkan bapak dan ibumu bila ia nanti tidak dapat memberimu susu terbaik, pakaian terbagus, atau rumah terlayak. Itu bukan melulu kesalahan mereka. Bangsamulah, yang sedang dalam proses pencarian jatidirinya, yang seharusnya mengambil tanggung jawab itu. Jadilan manusia jujur berbudi luhur apapun keadaan bumi pertiwi. Jadilah seperti namamu, bunga kemuning yang selalu berbunga indah dimanapun ia tumbuh.

Pakdemu selalu mendoakan dirimu.

**Foto Jenar diambil di depan rumahnya di Tabanan, Bali

BACA SELENGKAPNYA..

Thursday, May 03, 2007

Jepara

Dalam sebuah acara Empat Mata yang sedang terkenal itu sang pembawa acara, Tukul Arwana, berbincang dengan sang bintang tamu, Nadia Saphira yang cantik dan menggemaskan, tentang hari Kartini. Sontak Tukul bertanya kepada Nadia, letak Jepara, kota kelahiran Kartini. Nadia, bintang layar kaca dan layar lebar yang berkuliah di Universitas Pelita harapan itu sedikit gelagapan menjawab pertanyaan yang lumayan mendasar tapi ternyata sulit dijawab. Jawab sekenanya, "Jawa Timur". Tukul Arwana pun tertawa tergelak-gelak. Lalu keluarlah kata-kata ajaibnya seperti "Cantik-cantik kok bodo! Ndeso!"

Ya, buat Tukul yang lahir dan dibesarkan di Semarang, tidak tahu letak Jepara adalah kebodohan. Jepara, yang letaknya hanya sepelemparan batu dari Semarang, tentu adalah tempat yang dikenal dengan baik bagi Tukul muda. Tidak peduli Nadia yang seksi, atau siapapun, yang telah menjelajah tempat-tempat tereksotis di muka bumi, bila tidak tahu dimana Jepara, berarti tidak tahu apa-apa. Pikiran sederhana tapi membumi buat Tukul.

Jepara, di luar yang kita tahu sebagai tempat kelahiran Kartini dan penghasil ukiran mebel-mebel jati yang berkualitas, adalah juga kota nelayan. Letaknya yang berada di tepi sebuah tanjung terluar di utara Pulau Jawa menjadikan nelayan adalah profesi yang dijalani sebagian besar penduduknya. Pada abad ke 16, Jepara adalah salah satu pelabuhan terpenting dalam jalur rempah-rempah selain Tuban, mengalahkan Sunda Kelapa dan Banten. Hanya Malaka yang mampu menjadi penandingnya. Untuk mengalahkannya, Portugis menguasai Malaka dan menutup jalur ke selatan sehingga perlahan-lahan Jepara tidak sebesar sebelumnya.

Bila Anda menyukai berlibur ke tempat-tempat yang tidak biasa, pergilah ke Pulau Karimunjawa di utara Jepara. Ada ferry yang menghubungkan Jepara dengan pulau yang indah tersebut. Di sana Anda bisa menyelam dan menyaksikan keindahan alam bawah laut di sedikit dari bagian Laut Jawa yang masih asri.

Lalu Tukul, yang bangga dengan pengetahuannya atas letak kota ini pun berkata, "Kembali ke Laptop!"

BACA SELENGKAPNYA..

Thursday, March 01, 2007

Gong

Nama aslinya Heri Hendrayana Harris. Tapi ia lebih dikenal sebagai Gola Gong, seorang pengarang yang karya-karyanya banyak bercerita tentang remaja dan anak muda. Salah satu tangannya diamputasi ketika di masa kecilnya ia membayangkan menjadi burung dan mencoba terbang dari pohon di halaman rumah bapaknya. Tapi itu tidak pernah menghalanginya menjadi pengarang yang produktif.

Perkenalanku dengan karya-karya Gola Gong terjadi ketika di masa remajaku aku berlangganan majalah Hai. Cerpen atau cerbung karya Gola Gong banyak bertebaran di majalah remaja yang cukup berbobot tersebut.

Balada si Roy adalah serial yang ia tulis di majalah tersebut. Bercerita tentang anak "kampung" dengan segala kesederhanaannya untuk menaklukkan Jakarta dan kemudian menjelajah nusantara, Balada si Roy menjadi pahlawan bagi remaja-remaja seperti aku yang tumbuh berkembang di kampung pinggiran Jakarta dengan semua keterbatasan yang dipunyai. Pertemuan dengan orang-orang baru selama perjalanannya, tokoh Roy mengajak pembaca meyakini bahwa setiap manusia adalah unik.

Balada si Roy adalah antitesis dari film Catatan si Boy karya Zara Zettira yang sempurna dengan mobil mewah, gadis-gadis cantik, dan tentu saja, rajin mengaji! Roy kadang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Roy naik kapal laut atau kereta api kelas ekonomi. Roy jatuh cinta pada gadis cantik tapi Roy juga patah hati. Roy tidak sempurna. Justru itu Roy menjadi nyata.

Di masa remaja itu aku mulai belajar untuk menulis. Gola Gong adalah salah satu patronku dalam menulis. Aku tidak pernah menjadi novelis atau pengarang cerpen. Tapi semua tulisanku yang lebih banyak bercerita tentang kota dan manusia yang dimuat beberapa koran nasional atau majalah selalu memiliki nyawa dari yang Gola Gong pernah ajari kepadaku.

Saat ini Gola Gong masih aktif menulis. Selain itu ia mengelola taman bacaan di rumahnya di Banten. Ia memiliki mimpi agar anak-anak di sekitar rumahnya yang tidak mampu memiliki akses untuk membaca buku-buku yang mereka inginkan. Komunitas Rumah Dunia, itulah nama yang diberikan Gola Gong bagi taman bacaanya.

BACA SELENGKAPNYA..

Wednesday, February 28, 2007

...............


Beberapa orang menghabiskan waktu pergi ke tanah suci
Berharap bertemu Tuhan atau suara kenabian
Tapi lalu pulang ke rumah dengan membawa amarah yang sama

Sebagian yang lain memilih untuk berperang
Dengan segala ingin menjadi pahlawan bagi ibu pertiwi
Namun justru mendapat kepahitan juga sumpah serapah

Tapi aku hanya ingin tidur di atas dadamu, manisku
Mendengar detak jantung yang berketuk teratur
Atau sekedar berlama-lama menghitung jumlah rambut halus di atas bibir mungilmu yang berbicara cepat
Kemudian mendapati beberapa bulu mata lentikmu jatuh di pipi yang bersemu merah

Beberapa orang mencari keindahan ke tempat-tempat terjauh di belahan bumi yang lain
Menikmati matahari terbenam di pucuk-pucuk Piramida Giza
Menyusuri Sungai Rhein yang syahdu
Atau memandang kota tua Konstantinopel membelah Eropa dan Asia dari ketinggian menara Hagia Sophia

Tapi aku hanya ingin berbicara membunuh waktu denganmu tentang hutan-hutan di pegunungan Leuser yang menipis
Atau mungkin juga mengenai salju di Puncak Jayawijaya yang menjadi air di sungai Memberamo
Atau, ah ya, juga tentang ketakutan para perempuan suku Anak Dalam di Jambi akan pohon-pohon yang tumbang
Lalu kemudian giliranmumu bercerita tentang Nusa Tenggara dengan bukit tandusnya
Atau mungkin sekedar memandangmu yang bertutur kisah ke bumi Borneo yang lembab
Di teras rumahmu yang nyaman sambil ditemani anjing-anjingmu yang lucu

Ada yang pantas mendapati dirinya memperoleh hadiah Nobel karena mampu mengangkat harkat para perempuan miskin di Banglades
Atau mendapat anugerah Pritzker dengan ceceran karya dari New York hingga Berlin
Tapi aku sudah menjadi manusia bahagia ketika melihat diriku terpantul di retina matamu yang jernih, sayangku

**the picture was taken with aperture F/4, shutter speed 1/80, focal length 25 mm, iso 400, filter PL. **

BACA SELENGKAPNYA..

Friday, February 16, 2007

Payangan

Sebuah kelurahan yang berjarak sekitar 15 kilometer utara Ubud. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Pendatang juga mendiami kelurahan ini. Beberapa berprofesi sebagai pedagang yang kebanyakan datang dari Jawa. Sebagian lain bekerja di hotel atau spa yang bertebaran di kawasan Ubud dan sekitarnya.

Terletak di tepi sungai Ayung yang menawan membuat kawasan ini tidak saja subur, tapi juga indah. Padi berteras-teras, lembah, dan tentu saja gadis-gadis manis yang membawa sesembahan untuk para dewa membuat kawasan ini menarik banyak operator hotel dan spa menancapkan kukunya di daerah ini.

Tapi di luar kosmopolitannya Payangan karena banyaknya orang asing yang memilih kawasan ini sebagai tempat tinggal mereka, Payangan tetaplah sebuah desa kecil dengan segala kesederhanaannya. Gampang saja melihat sederhananya sebuah daerah. Pergilah ke pasarnya.
Kebetulan hampir setiap malam aku mengunjungi Pasar Payangan. Ya, di sanalah satu-satunya harapanku kalau lapar menyerang. Kalau aku menunjungi Pasar Payangan, aku langsung teringat sebuah pasar di pinggiran Jakarta 23 tahun yang lalu. Ya, Pasar Payangan adalah sebuah Pasar Pondok Gede 23 tahun yang lalu bagiku.

Di Pasar Payangan aku bisa melihat keluarga petani sederhana dengan anak istrinya makan di sebuah warung pecel lele orang Banyumas atau keluarga pegawai negri kantor pos kelurahan makan bersama-sama di warung sate orang Madura. Betapa sederhananya mereka menikmati hidup. Tidak ada KFC, Starbucks, atau McD. Tapi tak mengubah apapun. Makan keluar bersama keluarga adalah tetap sebuah hal yang menyenangkan. Dimana pun itu. Apapun itu.

Lalu semua pikiran beralih ke Pasar Pondok Gede 23 tahun lalu ketika bapakku, ibuku, aku, dan adikku bersama-sama di atas sebuah vespa butut bapak, dengan segala kesederhanaan kami, beranjangsana ke sebuah kedai minuman alpukat di Pasar Pondok Gede yang becek.

Pasar Payangan membuatku merasakan de javu yang teramat sangat.


**Foto di atas diambil dari sebuah rumah milik arsitek Cheong Yew Kuan yang menghadap lembah Sungai Ayung**

BACA SELENGKAPNYA..

Thursday, February 08, 2007

Wiranggaleng

Seorang nabi tidak pernah dihormati di tempatnya sendiri. Itu yang dikatakan oleh Yesus, alias Isa. Ia mengatakan hal tersebut ketika diusir oleh orang-orang Israel ketika sedang berkotbah di lingkungan tempat ia dibesarkan. Tak perduli betapa banyaknya pengikutnya, atau betapa bagus kotbah yang ia sampaikan, tetap saja ia tahu pedoman klasik: seorang nabi akan selalu jadi orang biasa di tempat ia dibesarkan.

Semua ratu adil, nabi, juru selamat, yang kini punya banyak pengikut akhirnya memang berhasil. Berhasil menyebarkan ajaran yang menuntun umat manusia ke arah kehidupan lebih baik. Tapi keberhasilan itu tidak pernah terjadi di ruang dan waktu ketika mereka hidup.

Memang semua cerita nabi, ratu adil, juru selamat atau bahkan pahlawan biasa membutuhkan waktu untuk menjadi sebuah legenda bahkan kitab. Tapi ada cerita tentang seorang yang diharapkan menjadi pahlawan pada zamannya, tapi setelah ia berusaha sekuat tenaga, ia sadar bahwa ia bukan siapa-siapa, hanya seorang petani biasa yang merupakan bagian dari sebuah zaman. Ia sadar ia bukan pengubah zaman.

Adalah Wiranggaleng, seorang petani di kawasan Tuban Selatan, yang menjadi protagonis dalam epos besar karya Pramudya Ananta Toer, Arus Balik. Ia menjadi harapan besar dari seluruh rakyat yang merindukan kebesaran Majapahit, yang perlahan-lahan memudar, seiring dengan masuknya bangsa-bangsa utara ke pedalaman Jawa. Ialah Gajah Mada selanjutnya, semua orang berpikir.

Dengan setting tahun 1500an, ketika nusantara berubah dengan sangat cepat saat pedagang-pedagang Arab dan kolonialisme Eropa mulai menancapkan kakinya ke pulau-pulau di seluruh nusantara, Pram menggambarkan situasi saat itu dengan sangat detil. Pakaian yang mereka kenakan, ibadah keagamaan yang mereka lakukan, dan tentu saja kekawatiran masyarakat atas memudarnya Majapahit setelah 200 tahun sang Mahapatih Besar, Gajah Mada wafat.

Wiranggaleng, sang pemuda kemudian muncul dalam situasi seperti itu. Juga dengan harapan-harapan besar yang mnyertainya. Ia bahkan harus berlayar ke Malaka untuk menghadapi Portugis. Ialah penyatu nusantara! Ialah Mahapatih Besar yang ditunggu itu!

Tapi kemudian Wiranggaleng sadar, ia bukan sang Mahapatih yang diidolakannya itu. Ia petani kecil biasa dengan harapan yang terlalu besar di pundaknya. Maka ketika ia merasa gagal, ketika Portugis semakin masuk ke nusantara, ketika para pedagang Arab semakin masuk ke pedalaman Jawa, ia sadar, ia hanya ingin pulang ke rumahnya. Di sana sudah menunggu istri yang sangat dicintainya, Idayu.

Epos yang pernah dilarang beredar oleh pemerintah militer Soeharto ini sedikit menyentak buatku. Aku terlalu ingin menjadi "seseorang". Aku pergi ke seluruh tempat untuk melihat hal baru. Berharap itulah tempat yang tepat buatku untuk menjadikan diriku seseorang yang berpengaruh. Orang besar! Buku ini sedikit menyadarkan bahwa terkadang aku perlu untuk melihat bahwa kembali ke rumah, dan menghabiskan hidupmu dengan orang yang kau kasihi adalah bukan kesalahan. Menjadi orang biasa saja dan melihat semua yang terkasih ada di pelukanku juga adalah anugerah dari Sang Pencipta.

**untuk uut yang setia menunggu, entah berapa lama lagi**

BACA SELENGKAPNYA..

Wednesday, January 10, 2007

Namu

Nama lengkapnya Yang Erche Namu. Seorang gadis kecil biasa yang hidup di selatan China, namun memiliki perjalanan hidup yang luar biasa. Dari seorang gadis lugu yang berada di daerah kaki gunung dataran tinggi Tibet yang tak terjangkau, hingga berakhir menjadi seorang penyanyi di Los Angeles.

Semakin luar biasa perjalanan hidupnya, karena ia berada di tengah suasana ketika seluruh China harus mengadopsi revolusi kebudayaan di bawah Mao Zedong. Anda akan semakin tertarik ketika mengetahui bahwa komunitas yang dijalaninya, komunitas suku Moso, adalah sebuah komunitas dalam budaya yang bisa kita sebut matrilineal. Ya, karena semua garis keturunan diambil dari darah sang ibu. Juga, mereka tidak mengenal lembaga perkawinan. Sebuah tradisi menarik yang harus menghadapi tantangan hebat ketika para prajurit di bawah suruhan Sang Ketua Mao, memerintahkan seluruh China harus mengikuti kebudayaan China Modern yang berasal dari kebudayaan Han. Termasuk ketika mereka harus dipaksa mengakui lembaga perkawinan.

Semua itu bisa Anda dapatkan di buku Leaving Mother Lake karya kolaborasi Yang Erche Namu sendiri dengan antopolog Christine Mathieu. Buku ini menjadi bahan pembicaraan para feminis sejak diterbitkannya 2 tahun yang lalu karena secara nyata menghadirkan sebuah suku yang BENAR-BENAR matriaki dan tidak mengenal perkawinan.

Aku pernah membaca resensinya di Kompas 2 tahun yang lalu, dan secara kebetulan menemukan buku itu di lemari adik perempuanku yang baru pulang dari Aceh. "Hadiah dari teman asal India", kata adikku. Kesempatan untuk membaca habis buku itu datang ketika saat ini aku harus bekerja di Bali. Tempat kos yang sepi di Ubud, dan tiadanya hiburan seperti televisi membuat aku terlarut untuk menghabiskan Leaving Mother Lake ini. Tentu sambil ditemani oleh suara riang para kodok di hamparan sawah belakang rumah kosku.

BACA SELENGKAPNYA..